Laman

Thursday, February 4, 2016

Si Kembar dari Cijeruk



Perkenalkan nama mereka Rama dan Romi, panggil saja ama omi. Si kembar yang kini duduk dikelas 2 SDN 02 Cijeruk Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor ini mungkin adalah salah satu penyemangat saya saat melaksanakan kegiatan mengajar pada KKN (Kuliah Kerja Nyata) lalu. Mereka sangat lucu, yah jelas saja saat pertama kali bertemu saya sudah sangat tertarik dengan kekembaran nya, ditambah lagi saat mendengar mereka berbicara. Dari sekian banyak siswa siswi yang saya ajar, mereka lah yang belum terlalu lancar berbahasa Indonesia. Seringnya bahasa Sunda yang digunakan sebagai bahasa sehari-harinya. Tentu saja saya kesulitan untuk memahami obrolan mereka, malah saya kerap salah arti dan ngangguk ngangguk saja. Meski diri ini ada keturunan Sunda, namun nyatanya saya gagal ngobrol dengan bocah usia 8 tahun tersebut.

Pertama kali mencoba mengobrol dengan mereka, seperti biasa saya menanyakan nama, kabar, tempat tinggal dan hal lainnya. Seperti modus kaka kaka baik untuk lebih dekat dengan mangsa yang ingin diculiknya *eh. Wah ekspektasi saya terbayar, mereka sungguh antusias menjawab pertanyaan saya tanpa titik koma. Namun kurang beruntungnya, kata kata yang dikeluarkan dari kedua bocah itu adalah bahasa Sunda tulen. Saya mencoba meminta mereka menggunakan bahasa Indonesia saja, namun mereka menjawabnya dengan bahasa sunda kembali. Membayangkannya membuat saya geli menahan tawa. Kebetulan saat saya ke meje mereka, beberapa teman mereka juga menggerubungi kami. Jadi saat saya terlihat tak mengerti apa yang mereka sampaikan, suara penolong pun terdengar dengan mengartikan apa yang Ama Omi bicarakan barusan. Dan benar saja, pengakuan atas mereka yang kurang lancar berbahasa Indonesia pun disampaikan oleh salah satu teman mereka yang duduk di depannya
*Dia mah ngga bisa ngomong bahasa Indonesia ka, tiap hari bahasa sunda*
Wah baiklah kalau begitu, saya akan menghabiskan waktu mengajar spesial dengan kedua bocah sunda yang menggemaskan ini. Benar saja, mereka tak henti henti nya membuat saya tertawa terpingkal pingkal jika berada didekatnya. Mereka kerap bercerita tentang hari hari mereka dengan penuh semangat, tentu saja dengan logat sundanya yang sangat manis. Saya sampai terbengong bengong mendengar cerita mereka yang tak saya pahami wkwkwk. Untunglah saya sering dibantu oleh translator muda (teman sekelas Ama Omi sendiri)

Ama bisa dibilang lebih berani dibanding omi, jika kita sedang meminta ketersediaan murid murid di kelas 2 untuk maju mengerjakan soal. Jari telunjuk Ama tak sungkan untuk dijunjung tinggi. Menandakan dia ingin mencoba maju mengerjakannya. Namun berbeda dengan Omi yang sangat pemalu namun nyatanya ia sangat ingin bercengkerama hangat dengan kami, tutor dikelas 2 dan ini yang membuat saya justru lebih merasa dekat dengan Omi. Malu malu, sering memandang, sering berbisik dan selalu tersenyum sumringah saat bertemu. Tak jarang saat saya bepergian menggunakan motor (bacanya: dibonceng) dan tak sengaja bertemu dengannya di jalan…
“ka Eka” panggilnya dengan lantang, ia  berlari mendekat sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar yang menghiasi pipi gemuk nya dan pada saat itu saya begitu tertegun melihatnya. Ama Omi pun terkadang jauh jauh berjalan kaki dari rumahnya ke kontrakan kami. Namun lagilagi Omi selalu bersembunyi dibalik tembok samping rumah, sudah dibujuk pun tetap bersikukuh menyembunyikan dirinya dengan ekspresi malu malu. Haa dasar anak-anak
Itulah mereka, sepenggal cerita indah saya bersama anak anak luar biasa dari Cijeruk.
Ada satu hal yang mungkin akan selalu menjadi kebiasaan saya untuk mereka. Panggilan
*Amaaa Omiiii* akan selalu menjadi sapaan awal saat saya melintasi rumah mereka

No comments:

Post a Comment