Perkenalkan nama mereka Rama dan
Romi, panggil saja ama omi. Si kembar yang kini duduk dikelas 2 SDN 02 Cijeruk
Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor ini mungkin adalah salah satu penyemangat
saya saat melaksanakan kegiatan mengajar pada KKN (Kuliah Kerja Nyata) lalu.
Mereka sangat lucu, yah jelas saja saat pertama kali bertemu saya sudah sangat
tertarik dengan kekembaran nya, ditambah lagi saat mendengar mereka berbicara.
Dari sekian banyak siswa siswi yang saya ajar, mereka lah yang belum terlalu
lancar berbahasa Indonesia. Seringnya bahasa Sunda yang digunakan sebagai
bahasa sehari-harinya. Tentu saja saya kesulitan untuk memahami obrolan mereka,
malah saya kerap salah arti dan ngangguk
ngangguk saja. Meski diri ini ada keturunan Sunda, namun nyatanya saya gagal
ngobrol dengan bocah usia 8 tahun tersebut.
Pertama kali mencoba mengobrol
dengan mereka, seperti biasa saya menanyakan nama, kabar, tempat tinggal dan
hal lainnya. Seperti modus kaka kaka baik untuk lebih dekat dengan mangsa
yang ingin diculiknya *eh. Wah ekspektasi saya terbayar, mereka sungguh
antusias menjawab pertanyaan saya tanpa titik koma. Namun kurang beruntungnya,
kata kata yang dikeluarkan dari kedua bocah itu adalah bahasa Sunda tulen. Saya
mencoba meminta mereka menggunakan bahasa Indonesia saja, namun mereka
menjawabnya dengan bahasa sunda kembali. Membayangkannya membuat saya geli
menahan tawa. Kebetulan saat saya ke meje mereka, beberapa teman mereka juga
menggerubungi kami. Jadi saat saya terlihat tak mengerti apa yang mereka
sampaikan, suara penolong pun terdengar dengan mengartikan apa yang Ama Omi
bicarakan barusan. Dan benar saja, pengakuan atas mereka yang kurang lancar
berbahasa Indonesia pun disampaikan oleh salah satu teman mereka yang duduk di
depannya
*Dia mah ngga bisa ngomong bahasa
Indonesia ka, tiap hari bahasa sunda*
Wah baiklah kalau begitu, saya
akan menghabiskan waktu mengajar spesial dengan kedua bocah sunda yang
menggemaskan ini. Benar saja, mereka tak henti henti nya membuat saya tertawa
terpingkal pingkal jika berada didekatnya. Mereka kerap bercerita tentang hari hari
mereka dengan penuh semangat, tentu saja dengan logat sundanya yang sangat
manis. Saya sampai terbengong bengong mendengar cerita mereka yang tak saya
pahami wkwkwk. Untunglah saya sering dibantu oleh translator muda (teman
sekelas Ama Omi sendiri)
Ama bisa dibilang lebih berani
dibanding omi, jika kita sedang meminta ketersediaan murid murid di kelas 2
untuk maju mengerjakan soal. Jari telunjuk Ama tak sungkan untuk dijunjung
tinggi. Menandakan dia ingin mencoba maju mengerjakannya. Namun berbeda dengan
Omi yang sangat pemalu namun nyatanya ia sangat ingin bercengkerama hangat
dengan kami, tutor dikelas 2 dan ini yang membuat saya justru lebih merasa
dekat dengan Omi. Malu malu, sering memandang, sering berbisik dan selalu
tersenyum sumringah saat bertemu. Tak jarang saat saya bepergian menggunakan
motor (bacanya: dibonceng) dan tak sengaja bertemu dengannya di jalan…
“ka Eka” panggilnya dengan lantang, ia berlari mendekat sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar yang menghiasi pipi gemuk nya dan pada saat itu saya begitu tertegun melihatnya. Ama Omi pun terkadang jauh jauh berjalan kaki dari rumahnya ke kontrakan kami. Namun lagilagi Omi selalu bersembunyi dibalik tembok samping rumah, sudah dibujuk pun tetap bersikukuh menyembunyikan dirinya dengan ekspresi malu malu. Haa dasar anak-anak
“ka Eka” panggilnya dengan lantang, ia berlari mendekat sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar yang menghiasi pipi gemuk nya dan pada saat itu saya begitu tertegun melihatnya. Ama Omi pun terkadang jauh jauh berjalan kaki dari rumahnya ke kontrakan kami. Namun lagilagi Omi selalu bersembunyi dibalik tembok samping rumah, sudah dibujuk pun tetap bersikukuh menyembunyikan dirinya dengan ekspresi malu malu. Haa dasar anak-anak
Itulah mereka, sepenggal cerita
indah saya bersama anak anak luar biasa dari Cijeruk.
Ada satu hal yang mungkin akan selalu menjadi kebiasaan saya untuk mereka.
Panggilan
*Amaaa Omiiii* akan selalu menjadi sapaan awal saat saya melintasi rumah mereka
*Amaaa Omiiii* akan selalu menjadi sapaan awal saat saya melintasi rumah mereka

No comments:
Post a Comment