Laman

Thursday, February 25, 2016

Beliau



Perkenalkan beliau adalah Bapak Gusti Syafrudin MA. Panggil Saja Pak Gusti. Kiprahnya di BI sudah tak diragukan lagi, beliau sudah lebih dari 30 tahun mengabdikan diri untuk Bank Sentral Indonesia tersebut. Lalu apa posisi nya? Secara garis besar beliau adalah salah satu pejabat di divisi tersebut.  Mungkin bisa dikatakan dari semua orang yang saya kenal saat saya berkesempatan magang di Bank Indonesia khususnya di divisi Distribusi Uang, beliau lah yang menjadi idola saya.
Pria yang identik dengan peci dan juga kacamata ini merupakan sosok yang sangat sederhana, berwibawa, memiliki kemampuan berkomunikasi yang begitu sangat cakap dan yang sangat saya kagumi adalah motivasi hidup dan arahan nya yang selalu memberikan semangat kepada yang mendengarnya.  Bahkan beliau kerap mengajak kasir kasir junior untuk briefing tambahan, dengan tujuan memberikan beberapa nasihat baik terkait prosedural kegiatan pendistribusian uang yang akan dilakukan atau bahkan memberikan saran terkait attitude yang harus tertanam di dalam diri kasir kasir junior tersebut. Begitulah beliau, sangat perhatian baik dalam keprofesionalannya sebagai pimpinan dan juga sebagai orangtua yang banyak mengajarkan dan berbagi nasihat untuk membentuk teamwork yang lebih solid lagi.

Dan yang saya dan Rahma terima saat kami PKL disana adalah keramahtamahan yang ditunjukan kepada kami. Entahlah dibandingkan pejabat lainnya, beliau lebih banyak meluangkan waktunya untuk kami. Mungkin jika dipandang sebelah mata, siapalah dua gadis PKL ini. Bisa diterima dengan sangat baik dan penuh keramahtamahan dari keluarga besar di divisi ini saja kami sudah mengecap syukur tak terkira, ditambah dengan bergelimangnya makanan yang tak pernah habis setiap harinya membuat kami mendapatkan bonus yang luar biasa. Dan lalu? Kami pun mendapat perlakuan yang begitu sangat hebatnya oleh salah satu pejabat disana,

Kami sudah mulai menyenangi beliau saat ia memberikan 4 buah susu kotak untuk kami. “Biar sehat” ujar nya. Ditambah saat briefing utama ia sering menunjukan taringnya sebagai pejabat yang sangat berkompetibel. Di Jakarta ia hidup sendiri, dimana seluruh keluarga nya bertempat tinggal di Yogyakarta. Jadi beliau akan pulang seminggu sekali untuk ke Yogyakarta. Mendengar hal ini tentu Rahma yang notabene asli Yogyakarta pun merasa iri karena Rahma mungkin hanya bisa setahun sekali pulang saat lebaran tiba bahkan itu pun belum pasti hihi.
Pernah satu waktu, mungkin saat kami baru beberapa hari merasakan magang disana, ia menghampiri kami dan menanyakan bagaimana kesan nya sampai saat ini berada di divisi DU. Tentu kami menjawab sangat senang dan menyebutkan hal hal positif lainnya. Ia pun tersenyum, *terimakasih untuk segala pujiannya. Namun jika diperkenankan, saya ingin memberikan masukan boleh?* Tanya nya.*Tentu* jawab kami…
Saat itu Beliau berkata yang intinya sebagai berikut * segala pujian yang kalian berikan sebenarnya tidak akan menjadi apa apa untuk kami, karena yang aku harapkan adalah kritikan yang nantinya membuat kami jauh lebih baik lagi. Meski kalian baru disini jangan sungkan untuk memberikan kritik, karena jika kalian memberikan itu artinya kalian sudah sangat baik memerhatikan lingkungan disekitar kalian *. ditambah lagi saat beliau berkata * Aku disini tidak menganggap kalian sebagai mahasiswa PKL, namun sebagai keluarga baru di DU bahkan kalian sudah ku anggap seperti anak ku. Maka dari itu jangan menempatkan posisi kalian sebagai mahasiswa magang yang terbatas akan segala hal. Bergabunglah dengan kami dan bahkan kebiasaan kami. Jangan sungkan untuk menghampiri yang lebih tua misalnya untuk sekedar mengobrol atau untuk bersalaman “,Mendengar hal itu rasanya berbeda sekali. Jelas kami memang masih merasa canggung untuk ikut bergabung dan bahkan salaman yang sering kami lakukan hanyalah saat briefing selesai atau bahkan saat ada beberapa kasir yang memang menyempatkan untuk bersalaman kepada kami sebelum jam masuk tiba. Berbeda dengan kebiasaan seluruh pegawai disana yang saat memasuki ruang kerja, menyalami seluruh pegawai tanpa terlewat bahkan sampai harus mengecek keberadaan para pejabat di ruangan masing-masing. “jika apa yang sudah aku katakan ini dianggap baik, kalian bisa  ambil hikmahnya. Tapi kalau dirasa belum atau tidak baik. Tak apa tak usah dihiraukan”, tambah nya. Haaa mendengar nasihat beliau, membuat kami hanya bisa mengedipkan mata dengan tatapan penuh kagum. Disaat kami masih memisahkan diri dari yang lain karena mindset mahasiwa PKL yang masih tertanam, Belaiu hadir sebagai sosok yang sangat pemerhati untuk kami.
Dilaksanakan kah saran beliau?Yapp, tentu saja. Keesokan harinya kami langsung menyalami satu-satu pegawai disana meski untuk melangkah saat prosesi penyalaman itu kita sempat yakin tak yakin hahaha. Ternyata hal ini sangat berguna, disamping menambah kedekatan kami dengan pegawai lain kami pun kadang mendapatkan snack setelah itu wkwk

Pak Gusti pun pernah menunjukan kepada kami 1 lembar falon ( falon adalah lembaran uang yang belum mengalami proses pemotongan di PERURI, bentuknya seperti kertas karton yang berisi 10 cetakan uang  ke arah horizontal dan 5 cetakan uang ke arah vertikal). Jadi Jika sudah mengalami pemotongan, bentuk uang yang dihasilkan seperti yang berada di dompet kita. Rasanya begitu tak karuan melihat bahkan memegang falon untuk pertama kalinya. As we already know, bentuk “uang” yang kita ketahui mungkin terbatas hanya bentuk uang per lembar biasa, namun ternyata masih banyak ada proses untuk mendapatkan hasil final seperti itu. Pak gusti pun tak segan meladeni pertanyaan kami terkait masalah masalah yang menyangkut keuangannegara, seperti misalnya “Bagaimana alur pencetakan uang sampai dengan proses distribusinya ke seluruh Indonesia?”“kenapa kita tidak mencetak uang yang banyak pak untuk membayar utang Negara?”dan pertanyaan lainnya.
Beliau menjelaskan dengan sangat apik dan tentu memberikan pemahaman dan pembelajaran yang baru kepada kami. Bahkan beliau pernah mengatakan jikalau ada pertanyaan dari teman-teman kami lainnya terkait uang dan proses pendistribusiannya yang mungkin belum bisa kami jawab, bisa langsung ditanyakan ke padanya agar kami dan juga teman teman yang lain mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Beberapa hari setelah itu, pak Gusti memanggil kami untuk ke ruangannya. Beliau ternyata memberikan kami hadiah ini


Haa senangnya, wajah sumringah kami pun tak dapat disembunyikan begitu pun Beliau yang sangat hangat dengan kami. sebenarnya sosok beliau bisa dikatakan sangat tertutup dibandingkan pejabat lainnya, namun setelah mengenalnya ia begitu sangat ramah dan tawa nya yang sangat khas menambah komplit Bapak satu ini

Pernah suatu waktu kami bertemu dengannya di angkot saat pulang dari kantor. Awalnya kami tak menyadari kalau pria yang duduk di kursi paling pinggir itu adalah Pak Gusti. Tampilan beliau sangat beda, penampilan yang biasanya rapi ala pejabat kini menjadi casual bapak bapak. Topi bergambarkan klub sepak bola juventus, kaos casual, celana pendek dan sandal lah yang terlihat saat itu. Ditambah payung bewarna pastel dan ransel yang menemaninya. Kebetulan hari itu memang sedang hujan. Tentu melihat Pak Gusti dengan tampilan baru membuat kami tertawa, pak Gusti hanya senyam senyum dan memberikan kode dan “sssssst” dengan maksud sudah jangan tertawa terus. Yah saat itu beliau ingin ke Kalibata, karena kebetulan Jakarta habis diguyur hujan dan kemungkinan ia akan terjebak dikemacetan parah maka ia meninggalkan kendaraan pribadi nya di kantor dan lebih memilih kereta.

Tibalah di hari terakhir kami magang. Saat briefing Bapak direktur berpesan bahwa hari itu kami  dibebastugaskan dari rutinitas magang kami yaitu melakukan rekap dan input pajak, namun di hari itu   kami akan mendapatkan pembelajaran dan juga sharing bersama Pak Gusti untuk lebih memahami apa itu Bank Indonesia sampai dengan jobdesc di divisi kami ini yaitu Divisi Distribusi Uang. Tentu mendengar kata “dibebastugaskan”, hati kami bersorak “yess”, ditambah saat kami mendengar bahwa kami berkesempatan mendapat pengajaran dari Pak Gusti, hati kami langsung berkata “ nikmat mana lagi yang kamu dustakan? “ :’)
Pak Gusti pun menambahkan, seharusnya kegiatan ini bisa dilakukan saat awal kalian magang. Namun tak ada kata terlambat untuk proses belajar. Saya menginginkan dari proses magang ini kalian tidak hanya memiliki pengalaman membantu kami dalam melakukan rekap dan input pajak, tapi kalian juga dapat mendapatkan ilmu yang akan menambah wawasan kalian tentang instansi tempat magang kalian. Rupanya Pak Gusti sendiri yang meminta izin langsung kepada pak direktur agar kami dibebastugaskan dan mendapatkan pengajaran tersebut. Sudah tak karuan rupanya wajah kami saat mengetahui hal tersebut (deskripsi wajah kami : *senang*  *terharu* *tambah ngefans* *duh pak Gusti baiknya* *pejabat idaman* jadi sirik sama istrinya* )
beberapa personil geng Cabelita ( Mba Erni dan Mba Hesti) pun merasa kaget melihat perilaku pak Gusti yang begitu dekatnya dengan kami, berbeda dengan mahasiwa mahasiswa magang sebelumnya. “Mungkin karena kami dari desa, jadi Beliau lebih perhatian kali gengs” canda ku
Oke workshop kilat pun dimulai, kami duduk di salah satu ruang diskusi. Beliau sangat semangat untuk memberikan pemahaman kepada kami. ia berujar, rasanya aku ingin mentransfer semua yang ada di otak ku kepada kalian sambil tertawa riang hahaha. Ia memberikan ilmu baru kepada kami, membuka pemahaman yang luas terkait fungsi, tugas, kedudukan Bank Indonesia, Departemen-Departemen yang ada, sampai ke divisi yang menjadi tempat kami magang ini. Karena di divisi kami sangat identik dengan uang dari pengadaan sampai pendistribusiannya, ia pun melengkapii sharing tersebut dengan trik jitu untuk mengenali keaslian uang rupiah kita. Tak henti hentinya kami berdecak kagum. Sangat detail dan mudah dipahami. Tak jarang saat Pak Gusti sedang menuliskan beberapa hal penting di whiteboard. Saya dan Rahma mulai melempar senyum penuh arti sampai memberikan tanda love dari kursi kami >.<. *beraninya hanya dari belakang saja*. Kita tak hanya diberikan penjelasan yang megitu berharga dari pak Gusti namun beliau juga memberikan kesempatan kepada kami untuk menanyakan hal-hal terkait Bi yang mungkin belum menemukan jawaban. Seperti “ mengapa kasus bank Century menyeret BI dalam penanganannya Pak? Dan pertanyaan lainnya yang meskipun tak kepikiran namun kami tanyakan agar kami tidak overdosis dengan hanya termenung sambil mengaguminya *bubutataaa ..


Tak terasa sudah pukul 10.00 saja, hampir 2.5 jam kami melakukan diskusi  ini. Padahal awalnya jam 9 adalah target kami menyelesaikan workshop kilat ini. Terlalu asyik, sampai lupa waktu katanya. Seharusnya, jam 8 adalah jadwal beliau pergi untuk melakukan pengawalan harian ke Cilangkap dalam rangka pendistribusian uang bersama kasir kasir junior dan pegawai lainnya. Namun beliau menyempatkan terlebih dahulu untuk berbagi bersama kami. “ Ini hari kalian, jadi spesial saya luangkan waktu”, rasanya kami sudah ingin memeluknya dan memanggilnya *Ayah*
Pantas saja beberapa kasir junior masih lalu lalang di kantor, karena biasanya setelah briefing selesai, kami tak akan melihat batang hidung kasir kasir karena mereka sudah melakukan perjalanan dinas. Namun di hari itu mereka rupanya menunggu Pak Gusti yang sedang memberikan jamuan spesial kepada kami. maapin ya mas mas dan bapak bapak, pinjem dulu Pak Gusti nya sebentar.
Saat berpisah dengan beliau, “ jangan lupain kami ya disini”, tentu kami tersontak kaget, karena harusnya kami lah yang mengatakan demikian. Tambah kagetnya kami saat ia mengeluarkan sesuatu untuk kami bawa pulang hahah “nikmat mana lagi yang kamu dustakan? “ :’)

Itulah beliau, sosok idola baru dalam perjalanan hidup ini. Terimakasih untuk semua yang telah diberikan Pak, semoga kita bertemu dilain waktu…
Sebelum berpisah, seperti biasanya ritual yang tak boleh dilupakan. Yapp selfie dulu :D




No comments:

Post a Comment