Laman

Thursday, February 25, 2016

Bahagia?

Bagaimana caranya bisa bahagia?
Mungkin parameter tingkat kebahagiaan seseorang berbeda-beda. Ada yang merasa sangat berbahagia saat ulang tahun, lulus dari jenjang pendidikan, berbelanja (kaum hawa pasti setuju untuk hal ini), body treatment (tentu ini juga kesukaan para wanita), makan yang banyak, menghabiskan waktu dengan keluarga, beromantika dengan kekasih, bersenda gurau dengan para sahabat,  diberikan hadiah, travelling atau banyak lainnya.

Lalu apakah kebahagiaan itu selalu mahal?
Ya menurut saya. Mahal dari segi keuangan kah? “yah, kadang-kadang”. Tak jarang orang harus merogoh kocek dalam untuk melakukan hobi nya. Berbicara hobi, pasti akan sangat membahagiakan jika seseorang bisa menyalurkan hobinya kapan pun ia mau. Namun bagaimana jika hobi nya termasuk kedalam hobi kelas atas? Misalnya kolektor mobil mewah? Setidaknya kau juga harus mempunyai modal besar untuk memenuhi kepuasan akan hobi mu itu.
Lalu apa yang memang menjadi mahal akan kebahagiaan itu? *momen*,  itu adalah hal yang selalu akan menjadi mahal untuk esensi bahagia kalian, karena kalian tak akan pernah mengulang segala macam euforia akan suatu hal yang menurut kalian spesial dan menyenangkan. Meski hal tersebut nantinya akan berulang dikemudian hari tentu akan beda ceritanya.

Tak sulit memang untuk untuk berkata saya bahagia, tapi akan jauh sulit jika kalian bisa mempertahankan kebahagiaan kalian. Perubahan merupakan hal yang tak dapat disangka kapan akan singgah dalam kehidupan. Meski begitu bersyukurlah atas apa yang telah kalian alami dalam hidup ini, meski baik atau buruk sejatinya itulah warna warni hidup kalian bukan?
So keep happy in the glitter of the times even, that’s so simple


Beliau



Perkenalkan beliau adalah Bapak Gusti Syafrudin MA. Panggil Saja Pak Gusti. Kiprahnya di BI sudah tak diragukan lagi, beliau sudah lebih dari 30 tahun mengabdikan diri untuk Bank Sentral Indonesia tersebut. Lalu apa posisi nya? Secara garis besar beliau adalah salah satu pejabat di divisi tersebut.  Mungkin bisa dikatakan dari semua orang yang saya kenal saat saya berkesempatan magang di Bank Indonesia khususnya di divisi Distribusi Uang, beliau lah yang menjadi idola saya.
Pria yang identik dengan peci dan juga kacamata ini merupakan sosok yang sangat sederhana, berwibawa, memiliki kemampuan berkomunikasi yang begitu sangat cakap dan yang sangat saya kagumi adalah motivasi hidup dan arahan nya yang selalu memberikan semangat kepada yang mendengarnya.  Bahkan beliau kerap mengajak kasir kasir junior untuk briefing tambahan, dengan tujuan memberikan beberapa nasihat baik terkait prosedural kegiatan pendistribusian uang yang akan dilakukan atau bahkan memberikan saran terkait attitude yang harus tertanam di dalam diri kasir kasir junior tersebut. Begitulah beliau, sangat perhatian baik dalam keprofesionalannya sebagai pimpinan dan juga sebagai orangtua yang banyak mengajarkan dan berbagi nasihat untuk membentuk teamwork yang lebih solid lagi.

Dan yang saya dan Rahma terima saat kami PKL disana adalah keramahtamahan yang ditunjukan kepada kami. Entahlah dibandingkan pejabat lainnya, beliau lebih banyak meluangkan waktunya untuk kami. Mungkin jika dipandang sebelah mata, siapalah dua gadis PKL ini. Bisa diterima dengan sangat baik dan penuh keramahtamahan dari keluarga besar di divisi ini saja kami sudah mengecap syukur tak terkira, ditambah dengan bergelimangnya makanan yang tak pernah habis setiap harinya membuat kami mendapatkan bonus yang luar biasa. Dan lalu? Kami pun mendapat perlakuan yang begitu sangat hebatnya oleh salah satu pejabat disana,

Kami sudah mulai menyenangi beliau saat ia memberikan 4 buah susu kotak untuk kami. “Biar sehat” ujar nya. Ditambah saat briefing utama ia sering menunjukan taringnya sebagai pejabat yang sangat berkompetibel. Di Jakarta ia hidup sendiri, dimana seluruh keluarga nya bertempat tinggal di Yogyakarta. Jadi beliau akan pulang seminggu sekali untuk ke Yogyakarta. Mendengar hal ini tentu Rahma yang notabene asli Yogyakarta pun merasa iri karena Rahma mungkin hanya bisa setahun sekali pulang saat lebaran tiba bahkan itu pun belum pasti hihi.
Pernah satu waktu, mungkin saat kami baru beberapa hari merasakan magang disana, ia menghampiri kami dan menanyakan bagaimana kesan nya sampai saat ini berada di divisi DU. Tentu kami menjawab sangat senang dan menyebutkan hal hal positif lainnya. Ia pun tersenyum, *terimakasih untuk segala pujiannya. Namun jika diperkenankan, saya ingin memberikan masukan boleh?* Tanya nya.*Tentu* jawab kami…
Saat itu Beliau berkata yang intinya sebagai berikut * segala pujian yang kalian berikan sebenarnya tidak akan menjadi apa apa untuk kami, karena yang aku harapkan adalah kritikan yang nantinya membuat kami jauh lebih baik lagi. Meski kalian baru disini jangan sungkan untuk memberikan kritik, karena jika kalian memberikan itu artinya kalian sudah sangat baik memerhatikan lingkungan disekitar kalian *. ditambah lagi saat beliau berkata * Aku disini tidak menganggap kalian sebagai mahasiswa PKL, namun sebagai keluarga baru di DU bahkan kalian sudah ku anggap seperti anak ku. Maka dari itu jangan menempatkan posisi kalian sebagai mahasiswa magang yang terbatas akan segala hal. Bergabunglah dengan kami dan bahkan kebiasaan kami. Jangan sungkan untuk menghampiri yang lebih tua misalnya untuk sekedar mengobrol atau untuk bersalaman “,Mendengar hal itu rasanya berbeda sekali. Jelas kami memang masih merasa canggung untuk ikut bergabung dan bahkan salaman yang sering kami lakukan hanyalah saat briefing selesai atau bahkan saat ada beberapa kasir yang memang menyempatkan untuk bersalaman kepada kami sebelum jam masuk tiba. Berbeda dengan kebiasaan seluruh pegawai disana yang saat memasuki ruang kerja, menyalami seluruh pegawai tanpa terlewat bahkan sampai harus mengecek keberadaan para pejabat di ruangan masing-masing. “jika apa yang sudah aku katakan ini dianggap baik, kalian bisa  ambil hikmahnya. Tapi kalau dirasa belum atau tidak baik. Tak apa tak usah dihiraukan”, tambah nya. Haaa mendengar nasihat beliau, membuat kami hanya bisa mengedipkan mata dengan tatapan penuh kagum. Disaat kami masih memisahkan diri dari yang lain karena mindset mahasiwa PKL yang masih tertanam, Belaiu hadir sebagai sosok yang sangat pemerhati untuk kami.
Dilaksanakan kah saran beliau?Yapp, tentu saja. Keesokan harinya kami langsung menyalami satu-satu pegawai disana meski untuk melangkah saat prosesi penyalaman itu kita sempat yakin tak yakin hahaha. Ternyata hal ini sangat berguna, disamping menambah kedekatan kami dengan pegawai lain kami pun kadang mendapatkan snack setelah itu wkwk

Pak Gusti pun pernah menunjukan kepada kami 1 lembar falon ( falon adalah lembaran uang yang belum mengalami proses pemotongan di PERURI, bentuknya seperti kertas karton yang berisi 10 cetakan uang  ke arah horizontal dan 5 cetakan uang ke arah vertikal). Jadi Jika sudah mengalami pemotongan, bentuk uang yang dihasilkan seperti yang berada di dompet kita. Rasanya begitu tak karuan melihat bahkan memegang falon untuk pertama kalinya. As we already know, bentuk “uang” yang kita ketahui mungkin terbatas hanya bentuk uang per lembar biasa, namun ternyata masih banyak ada proses untuk mendapatkan hasil final seperti itu. Pak gusti pun tak segan meladeni pertanyaan kami terkait masalah masalah yang menyangkut keuangannegara, seperti misalnya “Bagaimana alur pencetakan uang sampai dengan proses distribusinya ke seluruh Indonesia?”“kenapa kita tidak mencetak uang yang banyak pak untuk membayar utang Negara?”dan pertanyaan lainnya.
Beliau menjelaskan dengan sangat apik dan tentu memberikan pemahaman dan pembelajaran yang baru kepada kami. Bahkan beliau pernah mengatakan jikalau ada pertanyaan dari teman-teman kami lainnya terkait uang dan proses pendistribusiannya yang mungkin belum bisa kami jawab, bisa langsung ditanyakan ke padanya agar kami dan juga teman teman yang lain mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Beberapa hari setelah itu, pak Gusti memanggil kami untuk ke ruangannya. Beliau ternyata memberikan kami hadiah ini


Haa senangnya, wajah sumringah kami pun tak dapat disembunyikan begitu pun Beliau yang sangat hangat dengan kami. sebenarnya sosok beliau bisa dikatakan sangat tertutup dibandingkan pejabat lainnya, namun setelah mengenalnya ia begitu sangat ramah dan tawa nya yang sangat khas menambah komplit Bapak satu ini

Pernah suatu waktu kami bertemu dengannya di angkot saat pulang dari kantor. Awalnya kami tak menyadari kalau pria yang duduk di kursi paling pinggir itu adalah Pak Gusti. Tampilan beliau sangat beda, penampilan yang biasanya rapi ala pejabat kini menjadi casual bapak bapak. Topi bergambarkan klub sepak bola juventus, kaos casual, celana pendek dan sandal lah yang terlihat saat itu. Ditambah payung bewarna pastel dan ransel yang menemaninya. Kebetulan hari itu memang sedang hujan. Tentu melihat Pak Gusti dengan tampilan baru membuat kami tertawa, pak Gusti hanya senyam senyum dan memberikan kode dan “sssssst” dengan maksud sudah jangan tertawa terus. Yah saat itu beliau ingin ke Kalibata, karena kebetulan Jakarta habis diguyur hujan dan kemungkinan ia akan terjebak dikemacetan parah maka ia meninggalkan kendaraan pribadi nya di kantor dan lebih memilih kereta.

Tibalah di hari terakhir kami magang. Saat briefing Bapak direktur berpesan bahwa hari itu kami  dibebastugaskan dari rutinitas magang kami yaitu melakukan rekap dan input pajak, namun di hari itu   kami akan mendapatkan pembelajaran dan juga sharing bersama Pak Gusti untuk lebih memahami apa itu Bank Indonesia sampai dengan jobdesc di divisi kami ini yaitu Divisi Distribusi Uang. Tentu mendengar kata “dibebastugaskan”, hati kami bersorak “yess”, ditambah saat kami mendengar bahwa kami berkesempatan mendapat pengajaran dari Pak Gusti, hati kami langsung berkata “ nikmat mana lagi yang kamu dustakan? “ :’)
Pak Gusti pun menambahkan, seharusnya kegiatan ini bisa dilakukan saat awal kalian magang. Namun tak ada kata terlambat untuk proses belajar. Saya menginginkan dari proses magang ini kalian tidak hanya memiliki pengalaman membantu kami dalam melakukan rekap dan input pajak, tapi kalian juga dapat mendapatkan ilmu yang akan menambah wawasan kalian tentang instansi tempat magang kalian. Rupanya Pak Gusti sendiri yang meminta izin langsung kepada pak direktur agar kami dibebastugaskan dan mendapatkan pengajaran tersebut. Sudah tak karuan rupanya wajah kami saat mengetahui hal tersebut (deskripsi wajah kami : *senang*  *terharu* *tambah ngefans* *duh pak Gusti baiknya* *pejabat idaman* jadi sirik sama istrinya* )
beberapa personil geng Cabelita ( Mba Erni dan Mba Hesti) pun merasa kaget melihat perilaku pak Gusti yang begitu dekatnya dengan kami, berbeda dengan mahasiwa mahasiswa magang sebelumnya. “Mungkin karena kami dari desa, jadi Beliau lebih perhatian kali gengs” canda ku
Oke workshop kilat pun dimulai, kami duduk di salah satu ruang diskusi. Beliau sangat semangat untuk memberikan pemahaman kepada kami. ia berujar, rasanya aku ingin mentransfer semua yang ada di otak ku kepada kalian sambil tertawa riang hahaha. Ia memberikan ilmu baru kepada kami, membuka pemahaman yang luas terkait fungsi, tugas, kedudukan Bank Indonesia, Departemen-Departemen yang ada, sampai ke divisi yang menjadi tempat kami magang ini. Karena di divisi kami sangat identik dengan uang dari pengadaan sampai pendistribusiannya, ia pun melengkapii sharing tersebut dengan trik jitu untuk mengenali keaslian uang rupiah kita. Tak henti hentinya kami berdecak kagum. Sangat detail dan mudah dipahami. Tak jarang saat Pak Gusti sedang menuliskan beberapa hal penting di whiteboard. Saya dan Rahma mulai melempar senyum penuh arti sampai memberikan tanda love dari kursi kami >.<. *beraninya hanya dari belakang saja*. Kita tak hanya diberikan penjelasan yang megitu berharga dari pak Gusti namun beliau juga memberikan kesempatan kepada kami untuk menanyakan hal-hal terkait Bi yang mungkin belum menemukan jawaban. Seperti “ mengapa kasus bank Century menyeret BI dalam penanganannya Pak? Dan pertanyaan lainnya yang meskipun tak kepikiran namun kami tanyakan agar kami tidak overdosis dengan hanya termenung sambil mengaguminya *bubutataaa ..


Tak terasa sudah pukul 10.00 saja, hampir 2.5 jam kami melakukan diskusi  ini. Padahal awalnya jam 9 adalah target kami menyelesaikan workshop kilat ini. Terlalu asyik, sampai lupa waktu katanya. Seharusnya, jam 8 adalah jadwal beliau pergi untuk melakukan pengawalan harian ke Cilangkap dalam rangka pendistribusian uang bersama kasir kasir junior dan pegawai lainnya. Namun beliau menyempatkan terlebih dahulu untuk berbagi bersama kami. “ Ini hari kalian, jadi spesial saya luangkan waktu”, rasanya kami sudah ingin memeluknya dan memanggilnya *Ayah*
Pantas saja beberapa kasir junior masih lalu lalang di kantor, karena biasanya setelah briefing selesai, kami tak akan melihat batang hidung kasir kasir karena mereka sudah melakukan perjalanan dinas. Namun di hari itu mereka rupanya menunggu Pak Gusti yang sedang memberikan jamuan spesial kepada kami. maapin ya mas mas dan bapak bapak, pinjem dulu Pak Gusti nya sebentar.
Saat berpisah dengan beliau, “ jangan lupain kami ya disini”, tentu kami tersontak kaget, karena harusnya kami lah yang mengatakan demikian. Tambah kagetnya kami saat ia mengeluarkan sesuatu untuk kami bawa pulang hahah “nikmat mana lagi yang kamu dustakan? “ :’)

Itulah beliau, sosok idola baru dalam perjalanan hidup ini. Terimakasih untuk semua yang telah diberikan Pak, semoga kita bertemu dilain waktu…
Sebelum berpisah, seperti biasanya ritual yang tak boleh dilupakan. Yapp selfie dulu :D




Cross Road

The second half of my life will be black to the white rind of the old and fading moon
The second half of mylife will be water over the cracked floor of these desert years
I will land on my feet this time,
knowing at least two languages and who my friends are
I will dress for the occasion and my hair shall be whatever color I please
Everyone will go on celebrating the old birthday, counting the years as usual, but I will count myself new from this inception, this imprint of my own desire

The second half of my life will be swift, past leaning fenceposts, a gravel shoulder, asphalt tickets, the beckonof open road
The second half of my life will be wide-eyed, fingers shifting through fine sands, arms loose at my sides, wandering feet
There will be new dreams every night and the drapes will never be closed
I will toss my string of keys into a deep well and old letters into the grate

The second half of my life will be ice breaking up on the river, rain soaking the fields
A hand held out, a fire and smoke going upward, always up

Magang

Dan satu lagi proses dalam perkuliahan pun dimulai. Kemarin saya sudah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama sebulan, dan now its time for Magang! Yapps magang
Awalnya Standard Chartered menjadi target utama saya untuk bisa mencari pengalaman di Bank asing tersebut. Namun ternyata bukan disana jodohnya, Alhamdulillah saya dan empat teman sekelas lainnya diterima di Bank Indonesia.
Saya dan Rahma ditempatkan di departemen Pengelolaan Uang (DPU) sedangkan ketiga teman saya lainnya di tempatkan di Departemen Riset Kebanksentralan (DRK). Dan magang kami pun  dimulai

Di DPU, saya dan rahma ditempatkan di divisi Distribusi Uang sebut saja DU. Awalnya divisi ini bernama Direktorat Pengedaran Uang yang ada di Kompleks BI lantai 6 Gedung C

 Disana sungguh luar biasa, bayangkan saja dari 50an pegawai di divisi tersebut hanya terdiri dari 3 wanita ditambah 2 dengan kami jadilah 5 wanita ditengah tengah pria pria tersebut. Jam kantor dimulai dari jam 07.00-16.15. Melihat jam masuk yang begitu berbedanya dengan jam masuk kuliah (kuliah: jika masuk pagi jam 7.30, jam 7.30 baru berangkat dari kosan) dan ditambah jarak kosan yang lumayan ke kantor serta penggunaan kereta sebagai roda transportasi membuat saya mengatur ulang jam tidur dan jam bangun. Jadwal bangun berubah drastis maksimal jam 4 pagi dan jadwal tidur àmaksimal jam 21.30 sudah terbuai mimpi, malah seringnya setelah isya saya sudah terkapar. Meski awalnya sempat merasa berat, tapi that’s so fun in the end. Well dengan jadwal baru seperti itu, banyak hal positif yang saya dapatkan. Jadwal subuh menjadi tepat waktu, jam tidur pun lebih teratur dengan tidak ada nya begadang di sela sela waktu malam untuk nonton drama korea ._. Namun tetap saja selalu bermasalah saat membuka gembok kostan tiap pagi. Jam 5.30 adalah jadwal kereta jurusan tanah abang tiba di stasiun pondok ranji, yang artinya saya harus sudah tiba sebelum jam tersebut. Lalu bagaimana jika saya terlambat naik kereta? Umm habis sudah rasanya….sensasi yang akan kau rasakan akan jauh lebih buas untuk bisa masuk dan bertahan di kereta.

Setiap jam masuk, jam istirahat dan jam pulang tiba di BI, kalian akan mendengarkan lantunan   nada yang menjadi “Bell Mark” nya. Seringnya kita menyebutnya sebagai “Hymne BI”.
Saat jam masuk tiba, kita selalu mengadakan briefing baik dari pegawai maupun tenaga organik DU. Berdiri di space kosong ruang kerja saling berhadapan untuk membacakan RKH (Rapat Kerja Harian) dilengkapi dengan arahan dari Direktur dan para pejabat serta informasi dari rekan kerja, doa, gerakan pemanasan yang sangat mengundang gelak tawa dan pembacaan nilai nilai strategis BI serta pembacaan lima tranformasi Bank Indonesia yang diakhiri dengan bersalaman menjadi kebiasaan pagi saat kami magang disana.
Lorong Briefing

Lalu bagaimana pengalaman 20 hari saya magang disana?
it such an alluring moment of those time.
Rutinitas kami disana adalah melakukan rekap perjalanan dinas dan menginput pajak dalam sistem. Banyak hal yang memang bersifat rahasia, jadi tak sembarang orang bisa bersentuhan dengan hal tersebut. Bahkan penggunaan inisial dan kode yang mungkin hanya di ketahui oleh pegawai DU kerap lalu lalang di telinga kami baik saat briefing maupun saat mereka sedang mengobrol
Jadi, magangnya hanya disibukkan dengan hal itukah?
Eitsss, jangan salah. Ini baru introductionnya.
sakral nya tugas saya memang itu, namun bisa dikatakan kegiatan sampingannya justru yang membuat kebahagiaan ini meningkat drastis. Bisa dikatakan saya dan Rahma ditempatkan di divisi yang menjelma menjadi gudang makanan. Kenapa? Tentu saja karena persediaan makanan di divisi ini tak pernah surut alias selalu ada (minimal gorengan yang ada di atas meja). Sepertinya akan panjang membahas urusan makan memakan di DU, ----
Sepanjang apa, general nya begini
  • Selalu ada katering snack untuk sarapan pegawai (meski saya dan rahma musiman mendapatkannya, jika ada kasir yang sedang dinas baru dihibahkan snacknya, kalau tidak ada? Yah nunggu makan siang)
  • Setiap jumat selalu diadakan perasmanan untuk sarapan bersama , sebut saja jumat barokah
  • Porsi makan siang yang tiada tara, lebih cocok dibilang porsi 2 kali makan. Karena lauknya bertumpah ruah (Alhamdulillah rejeki anak magang selalu dapet makan siang)
  • Setiap kasir atau pejabat yang melakukan perjalanan dinas ke luar kota, selalu membawa oleh oleh khas dari daerah dinas mereka yang beraneka ragam dengan jumlah besar (setidaknya cukup untuk 50an pegawai di DU bisa icip-icip)
    Misal: Ada yang baru dinas ke Palembang, saat pulang ia pasti akan membawa pempek dan kerupuk Palembang. Yang dinas ke Medan akan membawa bika ambon dan lainnya, yang dinas ke Surabaya akan membawa dodol beraneka macam rasa dan cokelat impor “entahlah kenapa coklat dianggap oleh oleh khasnya, yang penting enak deh*
    Jarak perjalanan dinas daerah satu dengan daerah lainnya tidak teralu jauh, mungkin hanya selang 2-3 hari jika memang proses pengirimannya sedang banyak. Jadi bisa dibayangkan seberapa sering kita bisa ikutan icip icip
  • Banyak pegawai dan pejabat yang menjadi relawan traktiran.
    Mungkin benar yang dikatakan orang, “perut orang kantoran biasanya buncit”, dan saya mengakui hal itu. Karena dengan kondisi lingkungan ber AC, kalian akan sering merasakan lapar tak berkesudahan selain ingin pipis terus tentunya. Maka dari itu alternatif mencari makanan tambahan pun menjadi trik jitu untuk bertahan di kantor. Seperti apa usaha nya?
    Misal : Duo Cabelita (Mba Hesti dan Mba Erni) mau makan pizza, pasti nya rayuan kepada pegawai didengungkan. Seringnya pak Ferry yang langsung merespon, “pesan aja pesan”, meski ia harus ke ATM dulu *Beliau sosok yang sangat sangat royal, menyenangkan dan tak tega. Mau apapun akan segera dibelikan* . Sekali jajan wah bisa lumayan budget yang dikeluarkan dari dompetnya. Selama kami disana, sudah beberapa kali traktiran Pak Ferry singgah di perut kami, belum lagi tumpukan makanan sedari ia pulang dari perjalanan dinas yang ia berikan kepada kami lalu ada traktiran satu-satu nya pejabat wanita disana, Bu Endang namanya. Sebenarnya ia tipikel yang memperhatikan kondisi tubuhnya, jadi kalau pesan makanan macam pizza ia hanya mencoba sedikit dan sisanya? Yah tentu kami yang sikat. Atau beberapa pegawai yang selalu membelikan camilan setelah jam istirahat usai. Tinggal tengok saja ke meja makanan, kalau ada makanan yang terlentang diatas meja,  bisa terdeteksi dengan kerumunan pegawai yang sedang antri untuk icip-icip
  • Traktiran Ulang Tahun, Promosi dan Mutasi
    Ulang tahun para pejabat mungkin adalah salah satu momen yang di tunggu bagi sebagian pegawai DU. Mengapa? Tentu saja pada hari itu biasanya ada makan besar. Beruntunglah saya dan rahma berkesempatan merasakan traktiran dari 2 pejabat yang berulang tahun disana. Seringnya akan ada catering sebagai sarapan kita disana. Nasi kebuli dan siomay, atau jenis makanan yang lain
  • Promosi dan mutasi? Yes itu juga masuk list momen mengenyangkan
    Kebetulan saat kami disana, ada salah satu pejabat DU yang promosi ke tingkat yang lebih tinggi lagi di divisi berbeda, Pak Sugeng namanya. Request-an traktiran pegawai dan pejabat untuk makanan traktirannya adalah bakso monas (seperti bakso atom, namun menurut saya itu lebih banyak porsinya). Mungkin bakso tersebut merupakan trandmark orang Jakarta, karena mencerminkan icon monas di nama Baksonya. Akankah ada bakso ondel-ondel? Kita lihat saja nanti
    Itu baru traktiran dari DU. Ternyata belum habis sampai situ, 4 pegawai yang mendapatkan promosi se-Departemen Pengedaran Uang (DPU) salah satu nya yaitu Pak Sugeng juga memberikan buah tangan untuk seluruh pegawai di departemen tersebut. 300an lebih pegawai saat hari itu membawa pulang bingkisan dan ice cream dan kami termasuk salah satu dari mereka hihi
    Berbeda dengan promosi, biasanya dari departemen yang menaungi DU yaitu Departemen Pengelolaan Uang (DPU) akan mengadakan upacara perpisahan untuk melepas para pegawai dari semua divisi di DPU yang akan melaksanakan mutasi. Perpisahan di DPU sudah dilaksanakan, namun kami punya upacara perpisahan lagi yang dikhususkan untuk pegawai DU. Seringnya mba Erni dan Mba Hesti yang berurusan dengan tim catering, yah pria pria sih tinggal terima beres ya. Mereka yang sibuk melist menu makanan mulai dari appetite, main course sampai dessert nya. Sepertinya divisi Pengadaan Uang (PgD) yang berada disebelah kami merasa sangat iri melihat divisi DU yang sering mengadakan makan bersama. Lagi dan lagi….
  • Belum lagi jika ada jadwal rapat yang tetiba di cancel. Baik makan berat dan snack dengan porsi aduhai akan diberikan ke pegawai lainnya
Yah itulah siklus makan kami yang tiada henti…tak henti-hentinya mengucap syukur telah ditempatkan di divisi ini.
Banyak sekali hal baru yang saya alami saat magang di gedung ini. Mulai dari tak sengaja bertemu Bapak tampan yang sedang diwawancara oleh banyak stasiun TV setelah kejadian ledakan bom Sarinah, yang ternyata Beliau adalah Gubernur BI yaitu Bapak Agus, melihat dan memegang uang yang belum selesai proses finishing. sampai yang sangat tak disangka-sangka yaitu dapat memasuki kantor Pengadaan Uang Keluar (PgUK) dimana saya dan Rahma berdiri di depan salah satu Brankas Uang Negara.

Kesempatan itu kami dapatkan pada hari traktiran bakso monas dari Pak Sugeng (biasanya hari yang diingat selalu identik dengan traktiran). Setelah briefing terakhir Pak Sugeng di DU, seluruh pegawai DU beserta Pak Direktur arak arakan mengantar Pak Sugeng ke divisi barunya yaitu di divisi PgUK yang berada di lantai dasar gedung C. Kami pikir, kami akan hanya tinggal di ruangan. Namun ternyata kami diajak pula, tentulah ruangan divisi kami tak berpenghuni. Hanya ada 2 mas-mas Bakso Monas yang sedang mempersiapkan panganan yang siap disantap kami setelah selesai mengunjungi PgUK. Tak hanya arak-arakan ternyata, para kasir junior sudah mempersiapkan penampilan yang akan disuguhkan dalam prosesi pengantaran ini. Beberapa dari mereka melilitkan sarung di pinggang nya dan memakai peci pula dengan tambahan script pantun yang akan menjadi remainder akan pantun yang ingin dibacakan disana. Wah rupanya seperti ritual masyarakat Betawi yaitu palang pintu. Saat memasuki PgUK, kami harus melalui jalan berliku yang sangat keren. Ternyata kami dibawa ke basement untuk bertemu dengan pegawai PgUK yang sedang melakukan briefing. Setelah lift terbuka di basement, aroma uang sudah tercium dahsyat. Sampai akhirnya kami berdiri ditepat salah satu brankas besar miik Negara, entah harus berkata apa. Luar biasa, ternyata kami merupakan anak magang pertama yang bisa masuk ke PgUk. Karena daerah tersebut hanya diperuntukkan bagi pegawai saja

Wah sungguh kesempatan yang sangat berharga. Mulailah para kasir junior memperlihatkan kemampuan dalam berbalas pantun meski terkadang mereka lupa dan melihat script, namun itu yang menambah kelucuan akan aksi mereka. Bahkan Mas Rizky dan Mas Seli sampai harus berlagak berduel untuk memeriahkan suasana. Dalam moment ini kami bisa melihat kesolidan tim DU yang begitu hebatnya, jadilah saat itu menjadi penyatuan briefing 2 divisi besar di DPU.
Di DU kami tergabung dalam geng Cabelita yang terdiri dari saya, Rahma, Mba Erni, Mba Hesti, Mba Septi (meski ia dari divisi sebelah yaitu divisi Pengadaan namun ia sering join ke divisi tetangga), mas Arif dan Mas Joko. Yah lengkaplah sudah hari-hari kami yang penuh dengan sukacita tersebut.
Berbeda dengan masa SMA atau tingkat sekolah terdahulu, umumnya kita akan langsung bergegas pulang jika bell sudah berbunyi. Hari-hari pertama saat kami baru memulai magang, tentu lantunan lagu pengiring pulang lah yang kami tunggu. sudah rapi perlengkapan pulang kami, tinggal pulang saja. Tapi saat kami melihat sekeliling, tak ada persiapan dari mereka untuk pulang. Masih menyibukkan diri dengan segala urusannya, wah mungkin seperti ini rasanya orang kantoran. Rupanya lantunan lagu tersebut hanya alunan selingan disela sela waktu kerja mereka. Ternyata mereka akan pulang kerja paling cepat jam 5 atau bisa sampai malam (itung saja lembur). Pantas saja saat kami pulang, rasanya hanya kami yang berjalan keluar gedung, sepi sekali….

Lalu apa sebenarnya tugas Utama dari Divisi Distribusi Uang itu sendiri?
Jadi singkatnya begini. Pengedaran terdiri dari kegiatan distribusi uang dan layanan kas yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Dengan alur dari bank indonesia uang di distribusikan ke kantor-kantor bank indonesia di daerah dan sebaliknya. Distribusi uang bertujuan agar kas Bank Indonesia yang ada di daerah berada pada keadaan yang cukup untuk keperluan pembayaran, penukaran dan penggantian uang selama jangka waktu tertentu. Distribusi uang ini sangat memperhatikan betul perencanaan dalam kegiatan distribusinya, dengan demikian distribusi uang tersebut tercapai keterpaduan dengan rencana pengadaan uang dan pengiriman uang dapat terlaksana secara lebih efisien, efektif, cepat dan tepat waktu sesuai kebutuhan. Layanan kas oleh bank Indonesia pada dasarnya terdiri dari penerimaan setoran dari bank-bank, kegiatan bayaran, penukaran, dan layanan kas lainnya. Layanan kas ini bertujuan untuk memenui ketersediaan uang pada kas dan memastikan uang tersebut layak edar.
Nah itulah tugas utama divisi Distribusi Uang dalam bank Indonesia

Tak terasa 20 hari telah berlalu cepat. Tibalah di hari terakhir kami magang disana, kami pun mendapat beberapa bingkisan sebagai kenang kenangan dari duo Cabelita, bahkan meski pun pak Ferry sedang dinas, ia sempat menitipkan hadiah untuk kami. Terlepas dari itu semua, pengalaman selama 20 hari menjadi keluarga DU lah yang tak bisa dilupakan. Terimakasih untuk hari hari yang menyenangkan dan mengenyangkan itu. Semoga kelak kita masih diberikan umur panjang agar bisa berjumpa lagi, aamiin
Salam DU Ngehits…..

Tuesday, February 9, 2016

5 Fairytale Forests Straight Out of a Story Book


No doubt we’ve all read a book or seen a film where the characters find themselves exploring an enchanted or haunted forest and the  scene before us becomes like something out of a fairytale.
There are trees taller than skyscrapers, majestic colours and sights so beautiful you have to rub your eyes a time or two before you can believe them.
As unbelievable as these sights may be, the forests we see in fairytales aren’t entirely fictitious. That said, here are five fairytale forests that are entirely real…

1. The Crooked Forest, Poland



Located just outside of the village Nowe Czarnowo in western Poland grows a forest of roughly 400 pine trees. While that in itself is nothing out of the ordinary, the fact that each of the trees grows with a 90 degree, northward facing bend at the base of their trunks lends this forest it’s fairytale edge.
Weirder still, a forest of perfectly normal, straight growing trees immediately surrounds the Crooked Forest.
It is believed that the Crooked Forest was planted sometime around 1930 by the Germans when the area was still a part of the German province of Pomerania. Studies suggest that the kink in the trees is entirely man-made, however no one has yet been able to prove how the Germans created this fairytale looking forest.

2. North Sentinel Island Forest, Bay of Bengal

It’s sad to say that for the most part many of the places modern day people have been deforested. This however is one of the reasons North Sentinel Island Forest is unique – it’s still a complete forest which covers the entirety the island. The reason? The island (which is 72km² in size) is surrounded by beautiful coral reefs and has no natural harbours which resulted in modern man never settling there.
And (if an island which is a forest from beach to beach wasn’t fairytale like enough for you) it’s on North Sentinel Island that you’ll find the world’s only still existing pre-neolithic tribe, known today as Sentinelese.
The tribe have no contact with the outside world and when modern man comes knocking they scare them off with arrows and javelins, making this island as mysterious as it is unique. Stepping onto this island (though it’s not recommend) really is like stepping back through time.


3. Bialowieza Forest, Poland and Belarus


Speaking of stepping back through time, Bialowieza Forest is yet another forest that will seemingly transport you through the ages. It’s Europe’s last surviving primeval forest which experts describe as a 7,000 year old time capsule.
Within it’s bounds you’ll find wolves roaming free, you’ll be dwarfed beneath some of the world’s tallest oak trees (the tallest of which stands at 46 metres tall!) and will feel like a giant as you gaze upon the pygmy owls and other minute creatures.
If the sheer size of the forest wasn’t enough to blow you away then no doubt the vast range of wildlife (some of which aren’t found anywhere else on Earth) will do the trick.

4.Hoia-Baciu Forest, Romania


Of course, not all fairytales are full of happy endings and mythical creatures. More often than not fairytales feature some darkness, commonly in the form of a haunted forest, which brings us to Hoia-Baciu Forest.
The forest was named for a shepherd who once entered with his 200 sheep only to vanish without a trace. To this day the mystery has never been solved. Since then locals have been afraid to enter the forest and have claimed it’s haunted however a brave few have ventured within it’s bounds, only to return injured, ill, or with a paranormal experience to report.
The forest is also a hotspot for UFO sightings and many reputable scientists have gambled their career by reporting their own mysterious findings on the area. Spooky…


5.Sagano Bamboo Forest, Japan



Located just a short distance from Kyoto, Sagano Bamboo Forest is, as the name suggest, made up entirely of bamboo trees. While it may not be your typical fairytale forest, it certainly is an incredible sight to behold.
As soon as you step within it’s bounds you’re greeted by lush green trees and when the wind blow you experience the shy rustle of leaves and the eerie yet oddly blissful sound of the bamboo singing.