Perkenalkan beliau
adalah Bapak Gusti Syafrudin MA. Panggil Saja Pak Gusti. Kiprahnya di BI sudah
tak diragukan lagi, beliau sudah lebih dari 30 tahun mengabdikan diri untuk
Bank Sentral Indonesia tersebut. Lalu apa posisi nya? Secara garis besar beliau
adalah salah satu pejabat di divisi tersebut.
Mungkin bisa dikatakan dari semua orang yang saya kenal saat saya
berkesempatan magang di Bank Indonesia khususnya di divisi Distribusi Uang,
beliau lah yang menjadi idola saya.
Pria yang identik dengan
peci dan juga kacamata ini merupakan sosok yang sangat sederhana, berwibawa,
memiliki kemampuan berkomunikasi yang begitu sangat cakap dan yang sangat saya
kagumi adalah motivasi hidup dan arahan nya yang selalu memberikan semangat
kepada yang mendengarnya. Bahkan beliau
kerap mengajak kasir kasir junior untuk briefing tambahan, dengan tujuan
memberikan beberapa nasihat baik terkait prosedural kegiatan pendistribusian
uang yang akan dilakukan atau bahkan memberikan saran terkait attitude yang harus tertanam di dalam
diri kasir kasir junior tersebut. Begitulah beliau, sangat perhatian baik dalam
keprofesionalannya sebagai pimpinan dan juga sebagai orangtua yang banyak
mengajarkan dan berbagi nasihat untuk membentuk teamwork yang lebih solid lagi.
Dan yang saya dan Rahma
terima saat kami PKL disana adalah keramahtamahan yang ditunjukan kepada kami.
Entahlah dibandingkan pejabat lainnya, beliau lebih banyak meluangkan waktunya
untuk kami. Mungkin jika dipandang sebelah mata, siapalah dua gadis PKL ini.
Bisa diterima dengan sangat baik dan penuh keramahtamahan dari keluarga besar
di divisi ini saja kami sudah mengecap syukur tak terkira, ditambah dengan
bergelimangnya makanan yang tak pernah habis setiap harinya membuat kami
mendapatkan bonus yang luar biasa. Dan lalu? Kami pun mendapat perlakuan yang
begitu sangat hebatnya oleh salah satu pejabat disana,
Kami sudah mulai
menyenangi beliau saat ia memberikan 4 buah susu kotak untuk kami. “Biar sehat”
ujar nya. Ditambah saat briefing utama ia sering menunjukan taringnya sebagai
pejabat yang sangat berkompetibel. Di Jakarta ia hidup sendiri, dimana seluruh
keluarga nya bertempat tinggal di Yogyakarta. Jadi beliau akan pulang seminggu
sekali untuk ke Yogyakarta. Mendengar hal ini tentu Rahma yang notabene asli Yogyakarta
pun merasa iri karena Rahma mungkin hanya bisa setahun sekali pulang saat
lebaran tiba bahkan itu pun belum pasti hihi.
Pernah satu waktu, mungkin saat
kami baru beberapa hari merasakan magang disana, ia menghampiri kami dan menanyakan
bagaimana kesan nya sampai saat ini berada di divisi DU. Tentu kami menjawab
sangat senang dan menyebutkan hal hal positif lainnya. Ia pun tersenyum, *terimakasih
untuk segala pujiannya. Namun jika diperkenankan, saya ingin memberikan masukan
boleh?* Tanya nya.*Tentu* jawab kami…
Saat itu Beliau berkata
yang intinya sebagai berikut * segala pujian yang kalian berikan sebenarnya
tidak akan menjadi apa apa untuk kami, karena yang aku harapkan adalah kritikan
yang nantinya membuat kami jauh lebih baik lagi. Meski kalian baru disini
jangan sungkan untuk memberikan kritik, karena jika kalian memberikan itu artinya
kalian sudah sangat baik memerhatikan lingkungan disekitar kalian *. ditambah
lagi saat beliau berkata * Aku disini tidak menganggap kalian sebagai mahasiswa
PKL, namun sebagai keluarga baru di DU bahkan kalian sudah ku anggap seperti
anak ku. Maka dari itu jangan menempatkan posisi kalian sebagai mahasiswa
magang yang terbatas akan segala hal. Bergabunglah dengan kami dan bahkan
kebiasaan kami. Jangan sungkan untuk menghampiri yang lebih tua misalnya untuk
sekedar mengobrol atau untuk bersalaman “,Mendengar hal itu rasanya berbeda
sekali. Jelas kami memang masih merasa canggung untuk ikut bergabung dan bahkan
salaman yang sering kami lakukan hanyalah saat briefing selesai atau bahkan
saat ada beberapa kasir yang memang menyempatkan untuk bersalaman kepada kami
sebelum jam masuk tiba. Berbeda dengan kebiasaan seluruh pegawai disana yang
saat memasuki ruang kerja, menyalami seluruh pegawai tanpa terlewat bahkan
sampai harus mengecek keberadaan para pejabat di ruangan masing-masing. “jika
apa yang sudah aku katakan ini dianggap baik, kalian bisa ambil hikmahnya. Tapi kalau dirasa belum atau
tidak baik. Tak apa tak usah dihiraukan”, tambah nya. Haaa mendengar nasihat
beliau, membuat kami hanya bisa mengedipkan mata dengan tatapan penuh kagum.
Disaat kami masih memisahkan diri dari yang lain karena mindset mahasiwa PKL
yang masih tertanam, Belaiu hadir sebagai sosok yang sangat pemerhati untuk
kami.
Dilaksanakan kah saran
beliau?Yapp, tentu saja. Keesokan harinya kami langsung menyalami satu-satu
pegawai disana meski untuk melangkah saat prosesi penyalaman itu kita sempat
yakin tak yakin hahaha. Ternyata hal ini sangat berguna, disamping menambah
kedekatan kami dengan pegawai lain kami pun kadang mendapatkan snack setelah
itu wkwk
Pak Gusti pun pernah menunjukan
kepada kami 1 lembar falon ( falon adalah lembaran uang yang belum mengalami
proses pemotongan di PERURI, bentuknya seperti kertas karton yang berisi 10
cetakan uang ke arah horizontal dan 5
cetakan uang ke arah vertikal). Jadi Jika sudah mengalami pemotongan, bentuk
uang yang dihasilkan seperti yang berada di dompet kita. Rasanya begitu tak
karuan melihat bahkan memegang falon untuk pertama kalinya. As we already know,
bentuk “uang” yang kita ketahui mungkin terbatas hanya bentuk uang per lembar
biasa, namun ternyata masih banyak ada proses untuk mendapatkan hasil final
seperti itu. Pak gusti pun tak segan meladeni pertanyaan kami terkait masalah masalah
yang menyangkut keuangannegara, seperti misalnya “Bagaimana alur pencetakan
uang sampai dengan proses distribusinya ke seluruh Indonesia?”“kenapa kita
tidak mencetak uang yang banyak pak untuk membayar utang Negara?”dan pertanyaan
lainnya.
Beliau menjelaskan
dengan sangat apik dan tentu memberikan pemahaman dan pembelajaran yang baru
kepada kami. Bahkan beliau pernah mengatakan jikalau ada pertanyaan dari
teman-teman kami lainnya terkait uang dan proses pendistribusiannya yang mungkin
belum bisa kami jawab, bisa langsung ditanyakan ke padanya agar kami dan juga
teman teman yang lain mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Beberapa hari setelah
itu, pak Gusti memanggil kami untuk ke ruangannya. Beliau ternyata memberikan
kami hadiah ini
Haa senangnya, wajah
sumringah kami pun tak dapat disembunyikan begitu pun Beliau yang sangat hangat
dengan kami. sebenarnya sosok beliau bisa dikatakan sangat tertutup
dibandingkan pejabat lainnya, namun setelah mengenalnya ia begitu sangat ramah
dan tawa nya yang sangat khas menambah komplit Bapak satu ini
Pernah suatu waktu kami
bertemu dengannya di angkot saat pulang dari kantor. Awalnya kami tak menyadari
kalau pria yang duduk di kursi paling pinggir itu adalah Pak Gusti. Tampilan
beliau sangat beda, penampilan yang biasanya rapi ala pejabat kini menjadi
casual bapak bapak. Topi bergambarkan klub sepak bola juventus, kaos casual,
celana pendek dan sandal lah yang terlihat saat itu. Ditambah payung bewarna
pastel dan ransel yang menemaninya. Kebetulan hari itu memang sedang hujan.
Tentu melihat Pak Gusti dengan tampilan baru membuat kami tertawa, pak Gusti
hanya senyam senyum dan memberikan kode dan “sssssst” dengan maksud sudah
jangan tertawa terus. Yah saat itu beliau ingin ke Kalibata, karena kebetulan
Jakarta habis diguyur hujan dan kemungkinan ia akan terjebak dikemacetan parah
maka ia meninggalkan kendaraan pribadi nya di kantor dan lebih memilih kereta.
Tibalah di hari
terakhir kami magang. Saat briefing Bapak direktur berpesan bahwa hari itu
kami dibebastugaskan dari rutinitas
magang kami yaitu melakukan rekap dan input pajak, namun di hari itu kami akan mendapatkan pembelajaran dan juga
sharing bersama Pak Gusti untuk lebih memahami apa itu Bank Indonesia sampai
dengan jobdesc di divisi kami ini
yaitu Divisi Distribusi Uang. Tentu mendengar kata “dibebastugaskan”, hati kami
bersorak “yess”, ditambah saat kami mendengar bahwa kami berkesempatan mendapat
pengajaran dari Pak Gusti, hati kami langsung berkata “ nikmat mana lagi yang
kamu dustakan? “ :’)
Pak Gusti pun
menambahkan, seharusnya kegiatan ini bisa dilakukan saat awal kalian magang.
Namun tak ada kata terlambat untuk proses belajar. Saya menginginkan dari
proses magang ini kalian tidak hanya memiliki pengalaman membantu kami dalam
melakukan rekap dan input pajak, tapi kalian juga dapat mendapatkan ilmu yang
akan menambah wawasan kalian tentang instansi tempat magang kalian. Rupanya Pak
Gusti sendiri yang meminta izin langsung kepada pak direktur agar kami dibebastugaskan
dan mendapatkan pengajaran tersebut. Sudah tak karuan rupanya wajah kami saat
mengetahui hal tersebut (deskripsi wajah kami : *senang* *terharu* *tambah ngefans* *duh pak Gusti
baiknya* *pejabat idaman* jadi sirik sama istrinya* )
beberapa personil geng Cabelita ( Mba Erni dan Mba Hesti) pun merasa kaget
melihat perilaku pak Gusti yang begitu dekatnya dengan kami, berbeda dengan
mahasiwa mahasiswa magang sebelumnya. “Mungkin karena kami dari desa, jadi
Beliau lebih perhatian kali gengs” canda ku
Oke workshop kilat pun
dimulai, kami duduk di salah satu ruang diskusi. Beliau sangat semangat untuk
memberikan pemahaman kepada kami. ia berujar, rasanya aku ingin mentransfer
semua yang ada di otak ku kepada kalian sambil tertawa riang hahaha. Ia
memberikan ilmu baru kepada kami, membuka pemahaman yang luas terkait fungsi,
tugas, kedudukan Bank Indonesia, Departemen-Departemen yang ada, sampai ke
divisi yang menjadi tempat kami magang ini. Karena di divisi kami sangat
identik dengan uang dari pengadaan sampai pendistribusiannya, ia pun
melengkapii sharing tersebut dengan trik jitu untuk mengenali keaslian uang
rupiah kita. Tak henti hentinya kami berdecak kagum. Sangat detail dan mudah
dipahami. Tak jarang saat Pak Gusti sedang menuliskan beberapa hal penting di
whiteboard. Saya dan Rahma mulai melempar senyum penuh arti sampai memberikan tanda
love dari kursi kami >.<. *beraninya hanya dari belakang saja*. Kita tak
hanya diberikan penjelasan yang megitu berharga dari pak Gusti namun beliau juga
memberikan kesempatan kepada kami untuk menanyakan hal-hal terkait Bi yang
mungkin belum menemukan jawaban. Seperti “ mengapa kasus bank Century menyeret
BI dalam penanganannya Pak? Dan pertanyaan lainnya yang meskipun tak kepikiran
namun kami tanyakan agar kami tidak overdosis dengan hanya termenung sambil
mengaguminya *bubutataaa ..
Tak terasa sudah pukul 10.00 saja, hampir 2.5 jam kami melakukan diskusi ini. Padahal awalnya jam 9 adalah target kami
menyelesaikan workshop kilat ini. Terlalu asyik, sampai lupa waktu katanya.
Seharusnya, jam 8 adalah jadwal beliau pergi untuk melakukan pengawalan harian
ke Cilangkap dalam rangka pendistribusian uang bersama kasir kasir junior dan
pegawai lainnya. Namun beliau menyempatkan terlebih dahulu untuk berbagi bersama
kami. “ Ini hari kalian, jadi spesial saya luangkan waktu”, rasanya kami sudah
ingin memeluknya dan memanggilnya *Ayah*
Pantas saja beberapa
kasir junior masih lalu lalang di kantor, karena biasanya setelah briefing
selesai, kami tak akan melihat batang hidung kasir kasir karena mereka sudah
melakukan perjalanan dinas. Namun di hari itu mereka rupanya menunggu Pak Gusti
yang sedang memberikan jamuan spesial kepada kami. maapin ya mas mas dan bapak
bapak, pinjem dulu Pak Gusti nya sebentar.
Saat berpisah dengan
beliau, “ jangan lupain kami ya disini”, tentu kami tersontak kaget, karena
harusnya kami lah yang mengatakan demikian. Tambah kagetnya kami saat ia
mengeluarkan sesuatu untuk kami bawa pulang hahah “nikmat mana lagi yang kamu
dustakan? “ :’)
Itulah beliau, sosok
idola baru dalam perjalanan hidup ini. Terimakasih untuk semua yang telah
diberikan Pak, semoga kita bertemu dilain waktu…
Sebelum berpisah, seperti
biasanya ritual yang tak boleh dilupakan. Yapp selfie dulu :D