Laman

Sunday, December 11, 2016

When Allah Loves You


The prophet (salla Allahu alaihi wa sallam) once said that the people most afflicted, and effected by trials, tribulations and calamities are the prophets (peace be upon them), after them are those who are lesser than them in virtue and righteousness.
The prophet (salla Allahu alaihi wa sallam) said a person would be tested by Allah azza wa jal depending on the level of his Imaan. If a person’s Imaan were strong, Allah would increase testing over him and if a person’s Imaan were weak Allah would lessen his testing.
In this hadith the prophet (salla Allahu alaihi wa sallam) tells us that without a doubt trials and tribulations from Allah azza wa jal would continually test a believer; and in another hadith he (salla Allahu alaihi wa sallam) says that Allah tests the people He loves with trials and calamities. Therefore in this life on earth there is no escape for us, we will be tested.
Imam Ahmed (may Allah have mercy on his soul) was asked, “When does a servant of Allah find the taste of comfort?” He said, “When he lays his foot in paradise.” When you put your first foot in paradise there will be no more trial, no more calamities and no hardships at all. Unfortunately this life cannot be like that, you will be tested in this life.
People often ask if what they are facing is a calamity, or a test from Allah, or if it is a punishment from Allah, and if it is elevating and raising our status in paradise? We do not have an answer to these questions. However, we know for sure that whatever tasks the prophet (salla Allahu alaihi wa sallam) faced, whatever trials and calamities he (salla Allahu alaihi wa sallam) went through, they raised and elevated his status by the side of Allah azza wa jal.
But when it comes to us, our hardships and tests may be raising and elevating our levels, but most likely they are a punishment for the things that we did or the sins that we committed or for the mandatory and obligatory things that we missed and did not fulfil.
Therefore, no matter what happens in this world you have to know that this happened because Allah the Almighty has decreed it. and once you have this content and satisfaction that whatever happens to you is by the decree of Allah azza wa jal, then things would turn to be much better than you expect and that would, by the grace of Allah azza wa jal, make you go through these trials and calamities with a happy heart and Allah azza wa jal knows best.

Saturday, August 13, 2016

She






love ....




feel the soul


the rhythm of this lovely violin appeared in Queen of The Damned movie. The vampire Lestat is awakened from decades of slumber by the sound of a heavy metal band which he proceeds to take over as the lead singer




This perfect violin solo by Eshwar Ravishankar

Monday, August 8, 2016

Time


Right from the time when you held me in your arms to the day when you saw me off for my first day in the world, I am holding today on the beautiful memories that have made me the person I am today. It didn’t matter whether we met often or not, what mattered is that your advice helped me connect my life’s dots. It didn’t matter whether we spoke every day or not, what mattered was that you loved me a lot
As a child, I had a million ways to annoy you. As a teenager, I had a million reasons to defy you. As an adult, I had a million opportunities to make you proud. I did all that but I missed out on the most important, to pack in an entire lifetime of love.
So I'll cherish your memory,
And mourn the years we'll miss






Wednesday, June 29, 2016

Diserang Rasa


Apa hendak dikata
Jika rasa bersimarajalela
Di dalam batin gelisah saja
Seperti menanti suatu yang tak hendak tiba
Pelita harapan berkelip-kelip
Tak hendak padam, hanyalah lemah segala sendi
Bertambah kelesah hati yang gundah
Sangsi, kecewa, meradang resah
benci, dendam...........rindu, cinta...........
Ah hujan rinai di waktu angin
Bertiup kencang memercik muka
Kemudian reda...........tenang..........
Di dalam mata air bergenang
Kembali harapan, kekuatan semakin nyata
Dari yang sudah-sudah, sebelum jiwa
Diserang rasa................



(Taufiq Ismail)

Tuesday, June 28, 2016

To Be Loved


So many people live around you
But not all get close to your heart
Some become so dear
That with their thoughts, its beating start

You are the one to whom
I’ll give my care to the most
Your absence makes me feel in life
As if everything is completely lost

Your kind is always in my mind
Wishes though I couldn’t convey
There were so many hurdles
Standing tall in the way

I have prayed for your good life
And mental peace with good health
The rest of things are just temporary
Only these will be you real wealth


Just for you, friends








Sunday, June 26, 2016

Ada Kalanya


Ada kalanya
Ketika cerca menyapa dalam kecewa
Ketika lirih menggema
Maka pahamilah

Ada kalanya
Ketika bibir tak bersuara
Ketika mata tak mampu mengarahkannya
Maka renungkanlah

Ada kalanya
Ketika ketakdewasaan mengikis rasa
Ketika kerenggangan memisahkan masa
Maka kenanglah

Ada kalanya
Ketika pedih  mencipta benci
Ketika rasa angkuh  merangkul sanubari tuk tak peduli
Maka sadarlah

Ada kalanya
Ketika waktu tak mampu menunggu
Ketika hati tak lagi ragu
Maka mulailah

The Right Time is Always Right Now


Stop Putting Things Off Waiting for the Perfect Time

You may be asking yourself, “When is the right time to start?”
To begin your big goal. To commence working out. Or even just to do the tasks on your task list.
The answer is always the same… “Right now is the right time.”

Waiting for the Perfect Time
You may say you are not ready.
You might say that things will be easier if you wait.
Or that you are waiting for a better, more convenient time.
Yet, “the perfect time” is a myth. And you may run out of time if you delay.

Later is never the right time to start. It’s always right now.
Right now… gets you in shape.
Right now… beats the deadline.
Right now… writes a book.
Right now… moves you one step to your goals.
Right now… crosses that item off your list.
You might think you'll have more time later, but right now gets the work done.

The Right Time is Now
Stop putting things off. There won’t be a “better” or “easier” time.
Not later. Not tomorrow. Not when the stars align.
If you wait, you may be too late.

The right time is always right now.

Behind The Scene


Foto dimana ya kita. Eh disini aja nih, view nya bagus. Nah iya bener sini aja yuk, eh tapi malu wkwk. Udah lah lanjut yuk biar ada dokumentasi hahaha.
*Dil, fotoin dong*

*iya sini gue fotoin, gaya aja deh kalian*


*dil itu kejauhan, gelap pula. Deketaaaan dong. Kaya gini nih ambilnya jarak deket*

 *eh iya ya, iya ya ulang deh*


*dil astagah, masih remang remang itu* *yang fokus dil, udah gerah ini*
*buset dah, bawel amat nih perempuan perempuan. udah bagus itu, sini deh lagi, ganti gaya aja deh lu pada ya*

Rahma & Vina

*lumayaaaan, cakeplah kita itu hahaha. Dil lagiiiii*
*iye iye. Ntar gantian ya*
*tenang aja dil. Spesial buat lo sih *
*Gaya Bebas ya sekarang*



*maaaak, itu kenapa pose nya begitu hahha*
*ih jangan di upload ya yang itu, aib banget hahah*
*yang terakhir harus foto elegan ya*



*sini dil gantian. Biar lo seeneng juga heheh*
*berdua yuk vin, dari DRK kita, minus Aufar aja nih*
*udah yuk buru, biar cepet pulang.Ntar kereta nya penuh nih cepetan*

*dilll sekarang sendiri dong lo. Sini biar ngehits*
fadil
 *Ih kok curang sih. Lo mah bersinar sendirian*
*iya lah jelas,  kan ada neon di pala gue* hahaha


Friday, March 4, 2016

Rindu


Hey aku RINDU.....!!!!!
Sungguh!!!!

Baby Song



From the private ease of Mothers womb
I fall into the lighted room

Why don’t they simply put me back
where it is warm and wet and black?

But one thing follows on another
things were different inside Mother

Padded and jolly I would ride
the perfect comfort of her inside

They truck me in a rustling bed

I lie there, raging, small and red

I may sleep soon, I may forget
But I wont forget that I regret

A rain of blood poured round her womb
But all time roars outside this room

Body Shop : “Kesadaran Membangun Dunia Yang Lebih Baik”



Dunia kosmetik dan perawatan tubuh tidak dapat dilepaskan dari dunia wanita dalam kehidupan modern. Sudah sejak lama wanita selalu ingin mempercantik diri dengan berbagai produk kecantikan. Untuk menarik perhatian kaum wanita, para pemain kosmetik ini sering melakukan pendekatan persuasi dan memberikan sugesti bahwa produk yang mereka tawarkan bisa menjadi solusi bagi setiap wanita agar tampil lebih menarik. Namun ada satu merek produk perawatan tubuh yang mengambil posisi berbeda di industri. Merek inilah yang kita kenal dengan nama Body Shop.

Perjalanan Body Shop dimulai dari tahun 1976, ketika sang pendiri Anita Roddick membuka toko kecil yang menjual produk perawatan tubuh dengan modal 4000 poundsterling di Inggris. Ide ini didapatkan sewaktu Anita menemukan toko di California yang menjual sabun dan lotion dari bahan alami bernama Body Shop. Toko di Amerika ini didirikan untuk membantu kaum imigrasi yang kesulitan mencari pekerjaan. Anita tertarik dengan ide awal ini dan memutuskan membeli hak penamaan dari pendiri awal Body Shop.

Pada awalnya Anita mendirikan Body Shop agar dapat menopang perekonomian keluarga selama suaminya mengadakan perjalanan panjang dari Buenos Aires ke New York menggunakan kuda. Oleh karena itu ia melakukan kegiatan operasional, desain toko, pengemasan produk dan pendekatan pemasaran sehemat mungkin agar mendapat margin keuntungan yang cukup besar. Cat bewarna hijau gelap pada toko awalnya bertujuan menyembunyikan keretakan di dinding dan kemasan botol plastik pada awalnya adalah media penyimpanan urine yang dibeli di rumah sakit lokal. Namun, suatu saat ketika kehabisan persediaan botol, Anita tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli persediaan lagi. Ketika itulah ia memutuskan menerapkan kebiasaan refill botol yang berlaku sampai saat ini.
Seiring waktu pertumbuhan Body Shop dinilai cukup signifikan. Setelah membangun fondasi yang kuat sejak tahun 2980-an Body Shop melakukan pendekatan serius dalam upaya membangun lingkungan. Sebenarnya mereka bisa saja melakukan pola pembelian bahan baku seperti perusahaan pada umumnya, yaitu dengan biaya seefisien mungkin  agar margin keuntungan dapat terjaga dengan baik. Meskipun demikian Body Shop sedapat mungkin mencari bahan baku dari Negara tertinggal dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Negara tersebut. Tentu saja biaya operasional menjadi lebih besar, tapi hal ini memberikan makna yang jauh lebih besar bagi perusahaan dalam upaya memberikan sesuatu yang kebih baik lagi. Bisnis Body Shop tidak sebatas memperjualbelikan produk perawatan tubuh, tapi berusaha membangun komunitas global dari bahan baku sampai dengan konsumen ikut semangat saling membantu dan memberikan solusi bagi semua stakeholder

Untuk menjaga hubungan jangka panjang yang menguntungkan kedua belah pihak, Anita menerapkan kebijakan berdagang,bukan sekadar memberikan bantuan.  Sudut pandang ini tentu memberikan dampak berbeda. Bila perusahaan menggunakan pola pikir memberikan bantuan atau bersifat filantropi, akan timbul ketergantungan pada kemampuan perusahaan menyumbang dana pada perekonomian. Namun dengan pendekatan berdagang masyarakat komunitas tertinggal akan ikut membantu Body Shop agar dapat mengangkat perekonomian mereka. Tentu dengan karakter seperti ni keberlangsungan hubungan menjadi sustainable.
Kebijakan perusahaan juga memengaruhi karyawan di segala fungsi. Body Shop selalu mengajak karyawan membangun lingkungan. Body Shop memperlakukan karyawan sebagai keluarga sendiri dan aktif mmeberikan edukasi kepada semua pihak yang berhubungan dengan perusahaaan agar membangun kehidupan dengan lebih baik lagi. Dengan demikian, tenaga pemasar Body Shop pun memeiliki diferensisasi unik dari tenaga penjuaL Merek perawatan tubuh lain, yang biasanya banyak menonjolkan keindahan  dan kecantikan bentuk tubuh
Nilai yang ditawarkan Body Shop juga memberikan pengaruh pada konsumen. Nilai peduli akan lingkungan hidup ini memacu loyalitas dan komitmen konsumen yang sadar akan pentingnya keberlangsungan bumi yang mereka huni. Dengan melakukan pembelian produk Body Shop, sebagian konsumen merasa memiliki ikatan tersendiri yang tidak dapat tergantikan oleh merek lain. Mereka merasa memajukan lingkungan dan kehidupan masyarakat dunia ketiga. Bukan dengan semata memberikan donasi , tapi dengan membangun ekosistem yang dapat menjadi solusi berkelanjutan.

100 Kisah Klasik Pemasaran-52

Thursday, February 25, 2016

Bahagia?

Bagaimana caranya bisa bahagia?
Mungkin parameter tingkat kebahagiaan seseorang berbeda-beda. Ada yang merasa sangat berbahagia saat ulang tahun, lulus dari jenjang pendidikan, berbelanja (kaum hawa pasti setuju untuk hal ini), body treatment (tentu ini juga kesukaan para wanita), makan yang banyak, menghabiskan waktu dengan keluarga, beromantika dengan kekasih, bersenda gurau dengan para sahabat,  diberikan hadiah, travelling atau banyak lainnya.

Lalu apakah kebahagiaan itu selalu mahal?
Ya menurut saya. Mahal dari segi keuangan kah? “yah, kadang-kadang”. Tak jarang orang harus merogoh kocek dalam untuk melakukan hobi nya. Berbicara hobi, pasti akan sangat membahagiakan jika seseorang bisa menyalurkan hobinya kapan pun ia mau. Namun bagaimana jika hobi nya termasuk kedalam hobi kelas atas? Misalnya kolektor mobil mewah? Setidaknya kau juga harus mempunyai modal besar untuk memenuhi kepuasan akan hobi mu itu.
Lalu apa yang memang menjadi mahal akan kebahagiaan itu? *momen*,  itu adalah hal yang selalu akan menjadi mahal untuk esensi bahagia kalian, karena kalian tak akan pernah mengulang segala macam euforia akan suatu hal yang menurut kalian spesial dan menyenangkan. Meski hal tersebut nantinya akan berulang dikemudian hari tentu akan beda ceritanya.

Tak sulit memang untuk untuk berkata saya bahagia, tapi akan jauh sulit jika kalian bisa mempertahankan kebahagiaan kalian. Perubahan merupakan hal yang tak dapat disangka kapan akan singgah dalam kehidupan. Meski begitu bersyukurlah atas apa yang telah kalian alami dalam hidup ini, meski baik atau buruk sejatinya itulah warna warni hidup kalian bukan?
So keep happy in the glitter of the times even, that’s so simple


Beliau



Perkenalkan beliau adalah Bapak Gusti Syafrudin MA. Panggil Saja Pak Gusti. Kiprahnya di BI sudah tak diragukan lagi, beliau sudah lebih dari 30 tahun mengabdikan diri untuk Bank Sentral Indonesia tersebut. Lalu apa posisi nya? Secara garis besar beliau adalah salah satu pejabat di divisi tersebut.  Mungkin bisa dikatakan dari semua orang yang saya kenal saat saya berkesempatan magang di Bank Indonesia khususnya di divisi Distribusi Uang, beliau lah yang menjadi idola saya.
Pria yang identik dengan peci dan juga kacamata ini merupakan sosok yang sangat sederhana, berwibawa, memiliki kemampuan berkomunikasi yang begitu sangat cakap dan yang sangat saya kagumi adalah motivasi hidup dan arahan nya yang selalu memberikan semangat kepada yang mendengarnya.  Bahkan beliau kerap mengajak kasir kasir junior untuk briefing tambahan, dengan tujuan memberikan beberapa nasihat baik terkait prosedural kegiatan pendistribusian uang yang akan dilakukan atau bahkan memberikan saran terkait attitude yang harus tertanam di dalam diri kasir kasir junior tersebut. Begitulah beliau, sangat perhatian baik dalam keprofesionalannya sebagai pimpinan dan juga sebagai orangtua yang banyak mengajarkan dan berbagi nasihat untuk membentuk teamwork yang lebih solid lagi.

Dan yang saya dan Rahma terima saat kami PKL disana adalah keramahtamahan yang ditunjukan kepada kami. Entahlah dibandingkan pejabat lainnya, beliau lebih banyak meluangkan waktunya untuk kami. Mungkin jika dipandang sebelah mata, siapalah dua gadis PKL ini. Bisa diterima dengan sangat baik dan penuh keramahtamahan dari keluarga besar di divisi ini saja kami sudah mengecap syukur tak terkira, ditambah dengan bergelimangnya makanan yang tak pernah habis setiap harinya membuat kami mendapatkan bonus yang luar biasa. Dan lalu? Kami pun mendapat perlakuan yang begitu sangat hebatnya oleh salah satu pejabat disana,

Kami sudah mulai menyenangi beliau saat ia memberikan 4 buah susu kotak untuk kami. “Biar sehat” ujar nya. Ditambah saat briefing utama ia sering menunjukan taringnya sebagai pejabat yang sangat berkompetibel. Di Jakarta ia hidup sendiri, dimana seluruh keluarga nya bertempat tinggal di Yogyakarta. Jadi beliau akan pulang seminggu sekali untuk ke Yogyakarta. Mendengar hal ini tentu Rahma yang notabene asli Yogyakarta pun merasa iri karena Rahma mungkin hanya bisa setahun sekali pulang saat lebaran tiba bahkan itu pun belum pasti hihi.
Pernah satu waktu, mungkin saat kami baru beberapa hari merasakan magang disana, ia menghampiri kami dan menanyakan bagaimana kesan nya sampai saat ini berada di divisi DU. Tentu kami menjawab sangat senang dan menyebutkan hal hal positif lainnya. Ia pun tersenyum, *terimakasih untuk segala pujiannya. Namun jika diperkenankan, saya ingin memberikan masukan boleh?* Tanya nya.*Tentu* jawab kami…
Saat itu Beliau berkata yang intinya sebagai berikut * segala pujian yang kalian berikan sebenarnya tidak akan menjadi apa apa untuk kami, karena yang aku harapkan adalah kritikan yang nantinya membuat kami jauh lebih baik lagi. Meski kalian baru disini jangan sungkan untuk memberikan kritik, karena jika kalian memberikan itu artinya kalian sudah sangat baik memerhatikan lingkungan disekitar kalian *. ditambah lagi saat beliau berkata * Aku disini tidak menganggap kalian sebagai mahasiswa PKL, namun sebagai keluarga baru di DU bahkan kalian sudah ku anggap seperti anak ku. Maka dari itu jangan menempatkan posisi kalian sebagai mahasiswa magang yang terbatas akan segala hal. Bergabunglah dengan kami dan bahkan kebiasaan kami. Jangan sungkan untuk menghampiri yang lebih tua misalnya untuk sekedar mengobrol atau untuk bersalaman “,Mendengar hal itu rasanya berbeda sekali. Jelas kami memang masih merasa canggung untuk ikut bergabung dan bahkan salaman yang sering kami lakukan hanyalah saat briefing selesai atau bahkan saat ada beberapa kasir yang memang menyempatkan untuk bersalaman kepada kami sebelum jam masuk tiba. Berbeda dengan kebiasaan seluruh pegawai disana yang saat memasuki ruang kerja, menyalami seluruh pegawai tanpa terlewat bahkan sampai harus mengecek keberadaan para pejabat di ruangan masing-masing. “jika apa yang sudah aku katakan ini dianggap baik, kalian bisa  ambil hikmahnya. Tapi kalau dirasa belum atau tidak baik. Tak apa tak usah dihiraukan”, tambah nya. Haaa mendengar nasihat beliau, membuat kami hanya bisa mengedipkan mata dengan tatapan penuh kagum. Disaat kami masih memisahkan diri dari yang lain karena mindset mahasiwa PKL yang masih tertanam, Belaiu hadir sebagai sosok yang sangat pemerhati untuk kami.
Dilaksanakan kah saran beliau?Yapp, tentu saja. Keesokan harinya kami langsung menyalami satu-satu pegawai disana meski untuk melangkah saat prosesi penyalaman itu kita sempat yakin tak yakin hahaha. Ternyata hal ini sangat berguna, disamping menambah kedekatan kami dengan pegawai lain kami pun kadang mendapatkan snack setelah itu wkwk

Pak Gusti pun pernah menunjukan kepada kami 1 lembar falon ( falon adalah lembaran uang yang belum mengalami proses pemotongan di PERURI, bentuknya seperti kertas karton yang berisi 10 cetakan uang  ke arah horizontal dan 5 cetakan uang ke arah vertikal). Jadi Jika sudah mengalami pemotongan, bentuk uang yang dihasilkan seperti yang berada di dompet kita. Rasanya begitu tak karuan melihat bahkan memegang falon untuk pertama kalinya. As we already know, bentuk “uang” yang kita ketahui mungkin terbatas hanya bentuk uang per lembar biasa, namun ternyata masih banyak ada proses untuk mendapatkan hasil final seperti itu. Pak gusti pun tak segan meladeni pertanyaan kami terkait masalah masalah yang menyangkut keuangannegara, seperti misalnya “Bagaimana alur pencetakan uang sampai dengan proses distribusinya ke seluruh Indonesia?”“kenapa kita tidak mencetak uang yang banyak pak untuk membayar utang Negara?”dan pertanyaan lainnya.
Beliau menjelaskan dengan sangat apik dan tentu memberikan pemahaman dan pembelajaran yang baru kepada kami. Bahkan beliau pernah mengatakan jikalau ada pertanyaan dari teman-teman kami lainnya terkait uang dan proses pendistribusiannya yang mungkin belum bisa kami jawab, bisa langsung ditanyakan ke padanya agar kami dan juga teman teman yang lain mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Beberapa hari setelah itu, pak Gusti memanggil kami untuk ke ruangannya. Beliau ternyata memberikan kami hadiah ini


Haa senangnya, wajah sumringah kami pun tak dapat disembunyikan begitu pun Beliau yang sangat hangat dengan kami. sebenarnya sosok beliau bisa dikatakan sangat tertutup dibandingkan pejabat lainnya, namun setelah mengenalnya ia begitu sangat ramah dan tawa nya yang sangat khas menambah komplit Bapak satu ini

Pernah suatu waktu kami bertemu dengannya di angkot saat pulang dari kantor. Awalnya kami tak menyadari kalau pria yang duduk di kursi paling pinggir itu adalah Pak Gusti. Tampilan beliau sangat beda, penampilan yang biasanya rapi ala pejabat kini menjadi casual bapak bapak. Topi bergambarkan klub sepak bola juventus, kaos casual, celana pendek dan sandal lah yang terlihat saat itu. Ditambah payung bewarna pastel dan ransel yang menemaninya. Kebetulan hari itu memang sedang hujan. Tentu melihat Pak Gusti dengan tampilan baru membuat kami tertawa, pak Gusti hanya senyam senyum dan memberikan kode dan “sssssst” dengan maksud sudah jangan tertawa terus. Yah saat itu beliau ingin ke Kalibata, karena kebetulan Jakarta habis diguyur hujan dan kemungkinan ia akan terjebak dikemacetan parah maka ia meninggalkan kendaraan pribadi nya di kantor dan lebih memilih kereta.

Tibalah di hari terakhir kami magang. Saat briefing Bapak direktur berpesan bahwa hari itu kami  dibebastugaskan dari rutinitas magang kami yaitu melakukan rekap dan input pajak, namun di hari itu   kami akan mendapatkan pembelajaran dan juga sharing bersama Pak Gusti untuk lebih memahami apa itu Bank Indonesia sampai dengan jobdesc di divisi kami ini yaitu Divisi Distribusi Uang. Tentu mendengar kata “dibebastugaskan”, hati kami bersorak “yess”, ditambah saat kami mendengar bahwa kami berkesempatan mendapat pengajaran dari Pak Gusti, hati kami langsung berkata “ nikmat mana lagi yang kamu dustakan? “ :’)
Pak Gusti pun menambahkan, seharusnya kegiatan ini bisa dilakukan saat awal kalian magang. Namun tak ada kata terlambat untuk proses belajar. Saya menginginkan dari proses magang ini kalian tidak hanya memiliki pengalaman membantu kami dalam melakukan rekap dan input pajak, tapi kalian juga dapat mendapatkan ilmu yang akan menambah wawasan kalian tentang instansi tempat magang kalian. Rupanya Pak Gusti sendiri yang meminta izin langsung kepada pak direktur agar kami dibebastugaskan dan mendapatkan pengajaran tersebut. Sudah tak karuan rupanya wajah kami saat mengetahui hal tersebut (deskripsi wajah kami : *senang*  *terharu* *tambah ngefans* *duh pak Gusti baiknya* *pejabat idaman* jadi sirik sama istrinya* )
beberapa personil geng Cabelita ( Mba Erni dan Mba Hesti) pun merasa kaget melihat perilaku pak Gusti yang begitu dekatnya dengan kami, berbeda dengan mahasiwa mahasiswa magang sebelumnya. “Mungkin karena kami dari desa, jadi Beliau lebih perhatian kali gengs” canda ku
Oke workshop kilat pun dimulai, kami duduk di salah satu ruang diskusi. Beliau sangat semangat untuk memberikan pemahaman kepada kami. ia berujar, rasanya aku ingin mentransfer semua yang ada di otak ku kepada kalian sambil tertawa riang hahaha. Ia memberikan ilmu baru kepada kami, membuka pemahaman yang luas terkait fungsi, tugas, kedudukan Bank Indonesia, Departemen-Departemen yang ada, sampai ke divisi yang menjadi tempat kami magang ini. Karena di divisi kami sangat identik dengan uang dari pengadaan sampai pendistribusiannya, ia pun melengkapii sharing tersebut dengan trik jitu untuk mengenali keaslian uang rupiah kita. Tak henti hentinya kami berdecak kagum. Sangat detail dan mudah dipahami. Tak jarang saat Pak Gusti sedang menuliskan beberapa hal penting di whiteboard. Saya dan Rahma mulai melempar senyum penuh arti sampai memberikan tanda love dari kursi kami >.<. *beraninya hanya dari belakang saja*. Kita tak hanya diberikan penjelasan yang megitu berharga dari pak Gusti namun beliau juga memberikan kesempatan kepada kami untuk menanyakan hal-hal terkait Bi yang mungkin belum menemukan jawaban. Seperti “ mengapa kasus bank Century menyeret BI dalam penanganannya Pak? Dan pertanyaan lainnya yang meskipun tak kepikiran namun kami tanyakan agar kami tidak overdosis dengan hanya termenung sambil mengaguminya *bubutataaa ..


Tak terasa sudah pukul 10.00 saja, hampir 2.5 jam kami melakukan diskusi  ini. Padahal awalnya jam 9 adalah target kami menyelesaikan workshop kilat ini. Terlalu asyik, sampai lupa waktu katanya. Seharusnya, jam 8 adalah jadwal beliau pergi untuk melakukan pengawalan harian ke Cilangkap dalam rangka pendistribusian uang bersama kasir kasir junior dan pegawai lainnya. Namun beliau menyempatkan terlebih dahulu untuk berbagi bersama kami. “ Ini hari kalian, jadi spesial saya luangkan waktu”, rasanya kami sudah ingin memeluknya dan memanggilnya *Ayah*
Pantas saja beberapa kasir junior masih lalu lalang di kantor, karena biasanya setelah briefing selesai, kami tak akan melihat batang hidung kasir kasir karena mereka sudah melakukan perjalanan dinas. Namun di hari itu mereka rupanya menunggu Pak Gusti yang sedang memberikan jamuan spesial kepada kami. maapin ya mas mas dan bapak bapak, pinjem dulu Pak Gusti nya sebentar.
Saat berpisah dengan beliau, “ jangan lupain kami ya disini”, tentu kami tersontak kaget, karena harusnya kami lah yang mengatakan demikian. Tambah kagetnya kami saat ia mengeluarkan sesuatu untuk kami bawa pulang hahah “nikmat mana lagi yang kamu dustakan? “ :’)

Itulah beliau, sosok idola baru dalam perjalanan hidup ini. Terimakasih untuk semua yang telah diberikan Pak, semoga kita bertemu dilain waktu…
Sebelum berpisah, seperti biasanya ritual yang tak boleh dilupakan. Yapp selfie dulu :D