ini adalah tulisan karya murid saya yang diperlombakan dalam rangka memperingati Hari Ibu kemarin. Selamat membaca...
mengikuti salah satu perlombaan menulis Aku hanya bisa terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit,melamun menatap kerak-kerak kecil di langit-langit kamarku. Bau obat-obatan menusuk hidungku. Salah satu bau khas kamar pasien. Lalu, pintu kamarku terbuka tanpa pemberitahuan. Munculah seorang dokter muda beserta seorang suster yang membawa alat infus dan obat-obatan. Sang dokter tersenyum ramah padaku sebelum menyapaku.
“ Bagaimana keadaan anda?” Sapa sang dokter sembari memeriksa denyut nadi dan detak jantungku. Suster mengganti peralatan infusku yang baru dengan kegesitan seorang medis.
“ Kaki saya kaku seperti biasa.” Aku menjawab secara otomatis. Pertanyaan itu yang selalu dilemparkan padaku setiap ada dokter atau suster yang memeriksa perkembanganku. Jujur,aku tak merasakan ada perbedaan yang signifikan.
Kalian penasaran apa yang terjadi padaku? Aku terserang stroke. Awalnya aku hanya mengira ini hanya pegal biasa,bukan masalah serius. Tetapi ketika kakiku semakin sulit digerakkan,aku mengunjungi dokter. Dokter mendiagnosa aku terkena stroke dan terlalu terlambat untuk melakukan penyembuhan awal. Obat-obat yang dibawa oleh suster itu telah mengalir dalam darahku semenjak aku dirawat. Obat itu adalah penghambat agar penyakitku tidak semakin parah.
“ Besok suster akan membantu terapi berjalan anda.” Dokter memberitahu. Kemudian ia mengeluarkan secarik amplop dari jas dokternya. “ Hari ini ibu anda mengirim surat lagi.” Aku tersenyum mengambil surat itu dari tangan dokter sambil mengucapkan terima kasih sebelum sang dokter dan suster keluar dari kamarku.
Ah,dengan melihat tulisan ibuku di amplop itu saja sudah merasakan kebahagian yang amat sangat. Aku membuka amplop itu dengan hati-hati bagaikan barang mudah hancur dalam tangan besarku ini. Ibuku tahu akan keadaanku. Begitu aku memberitahukan akan hal itu, bukan kesedihan yang ada disuaranya ketika aku meneleponnya. Melainkan suara kehangatan dan kelembutan. Layaknya bisikan malaikat mengatakanku untuk tegar. Karena itu,akupun mampu untuk menerima kondisiku.
Tak peduli bagaimana keadaanku,ibu selalu mengerti. Kehadirannya sungguh hangat,memancar bagai cahaya. Mulai dari menopang tubuh bayiku yang lemah hingga aku bisa berdiri sendiri sampai sekarang. Tak peduli aku pernah menyakiti ibu. Tak peduli dengan kata-kata kasarku yang pernah terlontar. Tak peduli aku yang selalu merepotkan ibu. Ibu tetap perhatian. Meskipun terpisah jauh begini. Surat-surat terus menghubungkan kita.
Sekarang aku dirawat di rumah sakit Jakarta sedangkan ibuku berada di kampung kelahirannya di Sumatra sana bersama sanak saudara yang menjaga ibu yang juga hanya bisa terbaring di ranjang karena usia tua. Ironi memang,kami dalam keadaan yang sama meskipun umurku yang lebih muda,aku sudah terkena penyakit akut begini. Ibuku lebih memilih untuk berkirim kabar lewat sepucuk surat. Supaya berkesan katanya.
Mungkin memang benar.
Ketika surat-surat dari ibu berhenti berdatangan aku heran. Aneh pikirku. Lalu, tidak kusangka, datanglah kakakku dari Surabaya untuk menjengukku. Kami berbincang-bincang dalam banyak hal karena telah berpisah selama 5 tahun. Sampai saatnya, perbincangan kami jatuh kepada topik yang tak diduga.
“ Aku mendapat kabar 2 minggu yang lalu keadaan ibu semakin lemah. Ibu sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi tanpa bantuan yang lain. Apa kau tahu?” Kedua mataku melebar. Mendengar kabar itu membuatku kaget setengah mati. Yang kutahu selama berkirim surat,ibu masih sehat.
Kenapa keluarga yang ada disana tidak memberitahukanku? Kenapa ibu sebelumnya tidak memberitahu kalau keadaannya semakin parah ? Pertanyaan itu terbersit di benakku.
Melihat ekspresi kagetku,ia menduga bahwa aku belum mendapat kabar. “ Aku berniat menjenguk ibu setelah menjengukmu.” Senyumannya terlihat dipaksakan. Kami mengetahui kenyataannya. Kalimat yang tidak terucap diantara kami.
Ibu sudah dipenghujung umurnya.
Kemudian aku memecah keheningan yang suram itu. “ Aku ingin menjenguk ibu.” Aku menunduk,menatap selimut tebalku. Dahiku mengernyit. “ Tapi aku tahu aku tak bisa…” Rasa sesal terselip dalam kalimat itu. Genggamanku pada selimutku semakin kuat sampai sendi jariku memutih. Kakakku hanya terdiam. Memandang prihatin. Kondisiku tidak memungkinkan untuk mengujungi ibu.
“ Tolong wakilkan aku.”
Kali ini aku menatap bulat di mata kakakku. Aku baru menyadari garis-garis penuaan mulai muncul disekitar matanya.
“ Tolong wakilkan aku untuk menjenguknya.” Suaraku lebih tegar. “ Ketika sampai,kumpulkan keluarga kita disana dan bacakan Yasin untuknya. Bacakanlah Al-Quran. Lantunkanlah nama Allah.”
Besoknya,kakakku pergi ke Sumatra. Sesegera mungkin ia mengumpulkan keluarga besar untuk membaca Al-Quran dan Yasin. Aku sempat menelepon kakakku dan menanyakan keadaan ibu. “ Kurus sekali seperti hanya tulang dibalut kulit. Ibu sudah tidak mampu berbicara lagi.” Itu yang dikatakan kakakku.
Aku tahu ia tidak bisa berbicara,tapi aku minta kakakku menempelkan hpnya pada telinga ibuku. Aku mengucapkan kata maaf. Maaf. Maaf. Hanya itu kata yang bisa kuucapkan dengan lirih.
Suara kakakku kemudian terdengar. Mengatakan bahwa ibu mengangguk sambil tersenyum mendengar suara anak laki-laki kesayangannya. Sebuah senyuman lembut penuh pengertian.Senyuman yang mengatakan sudah dari dulu aku memaafkanmu. Senyuman terakhir ibu untukku.
Dan esoknya,beliau meninggal.
Ketika kakakku kembali lagi ke Jakarta untuk menjengukku setelah hari penguburan ibu,ia memberikanku sepucuk surat. Sepucuk surat penuh kerutan yang disembunyikan ibu dibawah kasurnya bersama lembaran surat-surat yang telah kukirim selama ini. Rupanya ibu selalu membayangkan diriku dari surat yang kutulis. Bayangan diriku yang telah dewasa. Kami telah berpisah selama 10 tahun dan tak sempat bertemu wajah sekalipun.
Goresan pena ibu bergetar. Tulisan ibu berantakan. Dari tanggal yang tertulis,aku tahu ibu menulisnya 1 minggu sebelum kematiannya. Ketika tangannya sudah lemah bahkan untuk mengangkat pena sekalipun. Ibu memaksakan diri untuk menulisnya tetapi kenapa tak mengirimkannya? Saat membacanya aku tersadar.
Alasan kenapa ibu tak mengirim suratnya maupun kenapa yang lain tak mengabarkanku. Itu semua karena aku.
Ibu tak mau kondisiku bertambah parah. Ibu tahu penyakit stroke itu harus jauh dari segala emosi negatif,termasuk kesedihan yang akan meliputiku karena keadaan ibu. Ibu takut kesedihan berlarut akan memperburuk kondisiku. Jadi,ibu melarang yang lain memberitahu keadaan ibu. Tapi sepertinya yang lain lupa mengabarkan hal itu pada kakakku. Diakhir kalimat surat,aku melihat titik-titik air yang mengering pada kertas ini.
Ibu menangis.
Ibu menangis ketika menulis surat ini. Surat terakhir yang ia urungkan niatnya untuk dikirim kepadaku karena khawatir akan keadaanku. Sampai menjelang akhir hayatnyapun,ibu tetap memikirkanku. Mengungkapkan betapa bersyukurnya beliau mempunyai anak laki-laki seperti aku. Yang terkena penyakit ini.
Meskipun rindu membalut hati kami,ikatan hubungan kami terlalu kuat bahkan jarak takkan memutuskannya. Tapi aku tak akan menangis meski tubuhku memang sedikit melemah akibat kejadian itu. Aku takkan berlarut dalam kesedihan dan kepedihan. Karena aku tahu ibu sudah puas hidup di dunia ini dengan melihat anaknya tumbuh dewasa dan bahagia. Aku tahu hanya dengan melihat isi surat terakhir yang ibu tulis dengan segenap hati dan perasaan yang tumpah pada secarik kertas ini.
Sesungguhnya,apa arti dari perbedaan jarak ini ketika aku mempunyai surat untuk terhubung untuk ibu ketika ibu masih hidup dan doa untuk menghubungkan aku dengan ibu yang sekarang ada di sisi Sang Maha Kuasa?
Baktiku,kasihku,sayangku padamu takkan terhenti meskipun engkau telah tiada.
Karena itu yang telah engkau lakukan padaku selama ini untukku.
TAMAT
Cerpen terinpirasi dari ayahku yang telah mengidap penyakit parkinson selama 15 tahun dan bersabar menghadapinya serta aku persembahkan cerita ini untuk ibu yang telah rela merawat kami sampai sekarang.
Terim kasih telah membaca.
Fatimah Nurhidayah
No comments:
Post a Comment